Beranda / Mobil Baru / Katalog / KIA EV 6

KIA EV 6

Rp 1.3 M - Rp 1.7 M
Jarak Tempuh
506 KM
Mesin
Permanent Magnet Synchronous Motor (PMSM)
Roda Penggerak
AWD
Jenis Bahan Bakar
Listrik
Pintu
5
Tempat Duduk
5
Foto Interior
Foto Eksterior
Pilihan Warna
Ciptakan gayamu dengan berbagai pilihan warna
5 Pilihan Warna
Aurora Black Pearl
Runway Red
Yacht Blue
Moon Scape
Snow White Pearl
Tipe Kendaraan
KIA EV 6 GT
Rp 1.7 M
Dapatkan Ekslusif Promo
KIA EV 6 GT-Line
Rp 1.3 M
Dapatkan Ekslusif Promo
Fitur Kendaraan
KIA EV 6 GT
KIA EV 6 GT-Line
Jarak Tempuh
506 KM
Jenis Bahan Bakar
Listrik
Mesin
Permanent Magnet Synchronous Motor (PMSM)
Pintu
5
Roda Penggerak
AWD
Tempat Duduk
5
Power Steering
USB
Engine On
Camera Back
Parking Sensor
Bluetooth
ABS EBD
Airbag
Alarm
Immobilizer
Overhead Airbag
Side Airbag
Blind Spot Monitor
Collision Avoidance System
Stability Control
Brake Assist
Tire Pressure Monitor
Child Safety Lock
Emergency Stop Signal
Isofix Child Seat
Central Lock
Power Door Lock
Cruise Control
Headup Display
Navigation
Reading Lamp
Heater
Stereo Am Fm
Cd Audio
Wireless Charger
Apple Carplay
Android Auto
Touch Screen
Rear Ac
Electric Seat Adjust
Sunroof
Headrest Adjust
Wiper Auto
Led Daytime
Electric Foldable Mirror
Seat Belt Warning
Hands Free Communication
Welcome Light
Lihat Semua

KIA EV 6
Artikel Terkait
Lihat Semua
Sejarah 25 Tahun Kia di Indonesia, Dari Mobil Keluarga hingga Transisi ke Listrik
12 Jan 2026
Sejarah 25 Tahun Kia di Indonesia, Dari Mobil Keluarga hingga Transisi ke Listrik 12 Jan 2026 Jakarta, Goodcar.id - Seperti apa sejarah KIA di Indonesia? Dua puluh lima tahun bukan sekadar angka bagi Kia di Indonesia. Dalam kurun waktu seperempat abad itu, merek asal Korea Selatan ini tumbuh seiring perubahan lanskap otomotif nasional, mulai dari kebutuhan mobil keluarga sederhana, pergeseran gaya hidup urban, hingga tuntutan transisi teknologi menuju kendaraan listrik. Sejak pertama kali menjejakkan kaki di Indonesia pada awal 2000-an, Kia tidak datang sebagai merek yang langsung mapan. Pasar otomotif saat itu masih didominasi pemain Jepang dengan karakter konsumen yang sangat rasional: fungsional, terjangkau, dan minim risiko. Di fase ini, Kia memilih jalur realistis—menghadirkan kendaraan yang menjawab kebutuhan dasar mobilitas masyarakat. Model seperti Kia Carnival, Picanto, dan Rio menjadi pintu masuk Kia ke garasi keluarga Indonesia. Tidak revolusioner, tetapi cukup relevan untuk membangun satu hal penting: kepercayaan awal. Memasuki dekade 2010-an, peta otomotif nasional mulai berubah. Konsumen semakin kritis, desain menjadi pertimbangan utama, dan fitur bukan lagi pelengkap. Kia membaca pergeseran ini dengan memperluas portofolio produknya. Sportage dan generasi baru Rio hadir membawa bahasa desain yang lebih berani, sekaligus mempertegas identitas global Kia yang mulai matang. Periode 2010 hingga 2018 menjadi fase konsolidasi. Kia tidak tumbuh agresif, tetapi konsisten. Pendekatan ini mencerminkan pemahaman bahwa pasar Indonesia bukan sekadar besar, melainkan kompleks dan beragam. Transformasi besar terjadi ketika tren SUV mulai mendominasi pasar nasional. Segmen ini tumbuh bukan hanya karena tampilan, tetapi karena dianggap paling fleksibel untuk kondisi jalan dan gaya hidup masyarakat. Kia merespons cepat lewat kehadiran Seltos dan Sonet pada periode 2019–2022. Dua model ini menandai babak penting. Kia tidak lagi sekadar mengikuti pasar, tetapi mulai mengunci posisi sebagai merek yang adaptif terhadap selera lokal tanpa kehilangan arah global. Sonet, khususnya, menjadi bukti bagaimana Kia mengemas SUV ringkas dengan pendekatan yang lebih emosional—desain, fitur, dan positioning yang menyasar generasi baru konsumen. Masuk ke fase terbaru, transformasi Kia menjadi semakin nyata. Sejak 2023, Kia membawa portofolio kendaraan listriknya ke Indonesia melalui EV6 dan EV9. Langkah ini bukan tanpa risiko. Ekosistem kendaraan listrik di Indonesia masih bertumbuh, dan tingkat adopsi konsumen belum merata. Namun, pendekatan Kia relatif terukur. Alih-alih sekadar menjual produk, Kia ikut terlibat dalam proses edukasi pasar—membangun pemahaman tentang teknologi EV, kesiapan penggunaan, hingga relevansinya dengan kebutuhan mobilitas lokal. Strategi ini sejalan dengan arah Total Transformation Kia Global yang menempatkan elektrifikasi sebagai fondasi masa depan. Jika ditarik garis besar, evolusi produk Kia di Indonesia mencerminkan satu pola: membaca perubahan, lalu menyesuaikan diri. Dari kendaraan keluarga, mobil urban, SUV populer, hingga kendaraan listrik, setiap fase mencerminkan kebutuhan nyata konsumen pada masanya. Namun perjalanan 25 tahun Kia tidak hanya ditentukan oleh produk. Di baliknya, terdapat fondasi layanan dan jaringan yang perlahan dibangun. Layanan purna jual, konsistensi jaringan dealer, serta dukungan terhadap komunitas menjadi elemen penting dalam menjaga keberlanjutan merek di pasar yang sangat kompetitif. Kepercayaan konsumen tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari pengalaman kepemilikan yang konsisten—dari pembelian, perawatan, hingga layanan setelahnya. Di titik inilah Kia berupaya menempatkan dirinya bukan sekadar sebagai penjual kendaraan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem mobilitas jangka panjang. Menatap ke depan, Kia melihat masa depan otomotif Indonesia dengan optimisme yang tetap berpijak pada realitas. Transisi menuju mobilitas berkelanjutan bukan sekadar tren global, tetapi proses bertahap yang bergantung pada kesiapan infrastruktur, kebijakan, dan daya beli masyarakat. Dengan bekal 25 tahun pengalaman di Indonesia, Kia berada pada posisi yang relatif matang untuk melanjutkan transformasi tersebut. Bukan dengan langkah gegabah, melainkan melalui pendekatan adaptif—seperti yang telah dilakukan sejak awal kehadirannya. Perjalanan Kia di Indonesia, jika dirangkum, adalah cerita tentang bertahan, menyesuaikan diri, dan menemukan relevansi di tengah perubahan zaman. Dan seperti industri otomotif itu sendiri, cerita ini masih terus bergerak. Lihat Selengkapnya
GAC Perkuat Keamanan Data di Era Mobil Pintar dan Terkoneksi
08 Jan 2026
GAC Perkuat Keamanan Data di Era Mobil Pintar dan Terkoneksi 08 Jan 2026 Jakarta, Goodcar.id - Ketika mobil terintegrasi dengan perangkat digital, perannya tak lagi sebatas alat transportasi. Kendaraan modern mampu menjaring, mengolah, dan mengirim data secara terus-menerus. Dari titik inilah isu keamanan data mengemuka—menjadi taruhan besar bukan hanya bagi pabrikan, tetapi juga bagi negara dan publik. Kesadaran akan risiko tersebut mendorong berbagai produsen otomotif mulai menata ulang cara mereka mengelola data. GAC Group termasuk yang memilih mengambil langkah formal. Pada 24 Desember 2025, pabrikan asal Tiongkok itu mengumumkan perolehan Sertifikasi Sistem Manajemen Keamanan Data Kendaraan. Sertifikasi ini disebut sebagai yang pertama di industri otomotif Tiongkok. Namun yang diuji bukan sekadar kecanggihan teknologi. Standar yang digunakan menilai keseluruhan ekosistem perusahaan, mulai dari struktur organisasi, kebijakan internal, hingga relasi GAC dengan mitra di sepanjang rantai industri. Artinya, yang diperiksa adalah tata kelola, bukan hanya sistem. Penilaian semacam ini tidak hadir dalam ruang hampa. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Tiongkok memperketat regulasi terkait pengelolaan data. Beijing mengesahkan Undang-Undang Keamanan Data serta Undang-Undang Perlindungan Informasi Pribadi, yang secara langsung berdampak pada industri otomotif. Sektor otomotif menjadi perhatian khusus karena kendaraan pintar dipandang sebagai “sumber data bergerak”. "Mobil bukan hanya merekam kondisi teknis, tetapi juga lokasi, pola berkendara, hingga kebiasaan pengguna. Data semacam ini, jika tidak dikelola dengan ketat, berpotensi menimbulkan risiko yang lebih luas," tulis GAC dalam keterangan resminya dikutip 8 Januari 2026. Dalam konteks tersebut, sertifikasi yang diraih GAC dapat dibaca sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi yang kian ketat. Namun, pada saat yang sama, langkah ini juga merupakan strategi. Di tengah persaingan global, citra sebagai produsen yang aman dalam mengelola data menjadi nilai penting, terutama ketika pasar semakin sensitif terhadap isu privasi. Tekanan terhadap pabrikan pun tidak lagi datang semata dari regulator. Konsumen dan mitra internasional mulai menaruh perhatian pada bagaimana data dikumpulkan dan dilindungi. Keamanan data kini menjadi bagian dari reputasi, bukan sekadar urusan kepatuhan administratif. GAC menyatakan sistem keamanan data mereka diterapkan sejak tahap perancangan kendaraan hingga layanan purna jual, mencakup merek HYPTEC, GAC, dan AION. Pendekatan menyeluruh ini, jika konsisten dijalankan, berpotensi menekan risiko kebocoran data di sepanjang siklus hidup kendaraan. Namun di sinilah ruang kritisnya muncul. Sertifikasi menunjukkan kesiapan struktural, tetapi bukan jaminan mutlak. Sejarah industri teknologi memperlihatkan bahwa pelanggaran data kerap terjadi justru pada perusahaan yang telah mengantongi berbagai standar keamanan. Tantangan utama terletak pada implementasi harian dan pengawasan berkelanjutan. Bagi konsumen, isu ini mungkin terasa jauh dari pengalaman berkendara sehari-hari. Tetapi ketika mobil semakin terhubung dengan ponsel, rumah, dan infrastruktur kota, pertanyaan tentang siapa yang memegang kendali atas data menjadi semakin relevan. Data kendaraan bukan sekadar informasi teknis; ia dapat memetakan pola hidup penggunanya. Karena itu, langkah GAC setidaknya membuka diskusi yang lebih luas: masa depan mobil pintar tidak bisa dilepaskan dari tata kelola data yang transparan dan dapat diaudit. Sertifikasi bisa menjadi titik awal, tetapi kepercayaan publik hanya akan terbentuk melalui konsistensi dan keterbukaan. Di tengah euforia teknologi otomotif, GAC memilih menyoroti sisi yang jarang dipamerkan. Apakah langkah ini akan berkembang menjadi standar baru industri atau sekadar keunggulan sesaat, waktu yang akan menjawab. Lihat Selengkapnya
KIA Rayakan 80 Tahun, Tegaskan Visi Mobilitas Masa Depan Lewat Vision Meta Turismo
06 Jan 2026
KIA Rayakan 80 Tahun, Tegaskan Visi Mobilitas Masa Depan Lewat Vision Meta Turismo 06 Jan 2026 Jakarta, Goodcar.id — Delapan dekade perjalanan bukan sekadar catatan waktu, melainkan keberanian berinovasi, dan komitmen untuk terus bergerak maju. Pada 2025, Kia menandai usia ke-80 tahunnya melalui sebuah seremoni dan pameran khusus yang digelar di Kia Vision Square, Yongin, Korea Selatan. Perayaan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan warisan Kia sekaligus memaparkan arah masa depan mobilitas global. Acara tersebut turut disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Kia Global dan dihadiri lebih dari 400 tamu, termasuk jajaran pimpinan Hyundai Motor Group dan Kia, karyawan lintas generasi, serta mitra strategis yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Kia di industri otomotif dunia. Perayaan ini bukan hanya seremoni simbolik, tetapi juga ruang refleksi atas transformasi Kia dari masa ke masa. Dari Industri Presisi hingga Pemimpin Mobilitas Global Kia didirikan pada 1944 dengan nama Kyungsung Precision Industry oleh Kim Cheol-ho, yang awalnya berfokus pada produksi komponen logam. Nama Kia resmi digunakan pada 1952, bersamaan dengan peluncuran produk mobilitas pertamanya berupa sepeda 3000-Liho. Tonggak penting lainnya hadir pada 1973 melalui pendirian Sohari Plant, fasilitas produksi otomotif terintegrasi pertama di Korea Selatan yang kini dikenal sebagai AutoLand Gwangmyeong. Langkah Kia memasuki industri otomotif roda empat dimulai pada 1974 lewat peluncuran Kia Brisa. Sejak saat itu, Kia terus memperluas pengaruh globalnya melalui model-model ikonik seperti Kia Pride pada 1987 dan Kia Sportage pada 1993, yang dikenal sebagai salah satu pionir SUV perkotaan. Transformasi besar terjadi pada 1997 ketika Kia bergabung dengan Hyundai Motor Group. Momentum ini semakin kuat pada 2005, saat Euisun Chung menjabat sebagai Presiden Kia dan menerapkan strategi Design Management secara menyeluruh, termasuk merekrut desainer global Peter Schreyer. Langkah ini mempertegas posisi Kia sebagai merek otomotif yang tidak hanya fungsional, tetapi juga berkarakter kuat dari sisi desain. Warisan Manusia dan Visi Masa Depan Perayaan 80 tahun Kia juga menyoroti peran sumber daya manusia yang membentuk identitas brand dari generasi ke generasi. Melalui rangkaian cerita visual, film khusus, serta penampilan istimewa dari Kia Ambassador sekaligus violinist kelas dunia Clara-Jumi Kang, Kia menegaskan bahwa kekuatan sejatinya terletak pada manusia di balik setiap inovasi. Chairman Hyundai Motor Group, Euisun Chung, menyebut perjalanan Kia sebagai narasi besar tentang ketekunan dan komitmen jangka panjang. Sementara itu, Presiden dan CEO Kia Ho Sung Song menegaskan bahwa warisan 80 tahun ini akan menjadi suatu fondasi untuk melangkah ke masa depan dengan semangat yang sama. Vision Meta Turismo, Representasi Mobilitas Masa Depan Dalam momen bersejarah ini, Kia memperkenalkan Vision Meta Turismo Concept, sebuah kendaraan konsep yang merepresentasikan visi Kia terhadap era baru mobilitas. Konsep ini memadukan performa dinamis dengan interior bernuansa lounge, terinspirasi dari keanggunan dan semangat perjalanan jarak jauh era 1960-an. Mengusung filosofi desain “Opposites United”, Vision Meta Turismo memadukan estetika futuristik dengan pendekatan human-centered design. Interiornya dirancang imersif melalui integrasi teknologi digital yang mendukung kenyamanan pengemudi dan penumpang. Salah satu fitur unggulannya adalah setir generasi terbaru dengan tiga mode digital Speedster, Dreamer, dan Gamer yang dipadukan dengan teknologi Augmented Reality Head-Up Display (AR HUD). Teknologi ini menghadirkan informasi visual tiga dimensi yang seolah melayang di atas jalan, menciptakan interaksi yang lebih intuitif antara manusia dan kendaraan. Pameran “The Legacy of Movement” Sebagai bagian dari perayaan, Kia juga membuka pameran bertajuk “The Legacy of Movement”, yang menghadirkan delapan zona tematik dan jenis 17 kendaraan ikonik brand Kia. Pameran ini menampilkan perjalanan Kia dari masa ke masa dan akan dibuka untuk publik hingga 2029. Melalui strategi Total Transformation yang diperkenalkan sejak 2021, Kia menegaskan komitmennya terhadap mobilitas berkelanjutan, termasuk pengembangan kendaraan listrik, Platform Beyond Vehicle (PBV), serta solusi berbasis perangkat lunak. Delapan dekade perjalanan Kia menjadi bukti bahwa mobilitas bukan sekadar soal kendaraan, melainkan tentang pergerakan yang terus berevolusi dan menginspirasi masa depan. Lihat Selengkapnya
7 Perbedaan JAECOO J5 EV Standar dan Premium, Pertimbangan Beli EV di Awal 2026
02 Jan 2026
7 Perbedaan JAECOO J5 EV Standar dan Premium, Pertimbangan Beli EV di Awal 2026 02 Jan 2026 Jakarta, Goodcar.id - Memasuki tahun baru 2026, tren kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif. Konsumen kini tak hanya mempertimbangkan efisiensi dan isu lingkungan, tetapi juga fitur, kenyamanan, serta nilai investasi jangka panjang. Salah satu model yang mulai banyak diperbincangkan adalah JAECOO J5 EV, SUV listrik yang hadir dalam dua varian, Standar dan Premium. Meski sekilas terlihat serupa, perbedaan JAECOO J5 EV Standar dan Premium cukup terasa di berbagai aspek penting. Berikut tujuh perbedaan utama yang perlu diketahui. 1. Fitur Keselamatan dan Teknologi Perbedaan paling mencolok JAECOO J5 EV Standar dan Premium terletak pada sektor keselamatan. Varian Premium sudah dibekali 17 fitur ADAS (Advanced Driver Assistance System) yang berfungsi membantu pengemudi dalam berbagai kondisi berkendara, mulai dari lalu lintas padat hingga perjalanan jarak jauh. Sementara itu, JAECOO J5 EV Standar belum dilengkapi sistem ADAS, sehingga fitur keselamatannya masih tergolong dasar. 2. Kenyamanan Jok Pada aspek kenyamanan, JAECOO J5 EV Standar belum memiliki electric seat, ventilated seat, serta jok berbahan synthetic leather. Seluruh fitur tersebut baru tersedia di varian Premium. Perbedaan ini cukup berpengaruh pada kenyamanan, terutama bagi pengguna yang sering berkendara dalam waktu lama atau di kondisi lalu lintas perkotaan. 3. Moonroof dan Bagasi Perbedaan JAECOO J5 EV Standar dan Premium berikutnya terlihat pada desain atap dan akses bagasi. Varian Premium sudah dibekali panoramic roof yang memberikan kesan kabin lebih lapang, serta power tailgate untuk kemudahan membuka dan menutup bagasi. Pada varian Standar, kedua fitur ini masih belum tersedia. 4. Layar Hiburan Dari sisi teknologi hiburan, JAECOO J5 EV Premium menggunakan head unit berukuran 13,2 inci yang tampil lebih modern dan informatif. Sementara itu, JAECOO J5 EV Standar hanya dibekali layar 9 inci, yang secara fungsi masih memadai namun tidak sebesar versi Premium. 5. Kesan Mewah Kabin Nuansa interior menjadi pembeda lain antara kedua varian. JAECOO J5 EV Premium sudah dilengkapi ambient light 64 warna yang meningkatkan kesan mewah di kabin, serta kamera 540 derajat untuk membantu visibilitas saat parkir dan bermanuver. Sebaliknya, varian Standar hanya mengandalkan kamera mundur standar. 6. Detail Eksterior dan Kekedapan Pada detail eksterior, JAECOO J5 EV Standar belum menggunakan power folding mirror dan masih mengandalkan single glass, sehingga tingkat kekedapan kabin berada di bawah varian Premium. JAECOO J5 EV Premium sudah dibekali power folding mirror serta double glass yang membantu meredam suara dari luar. 7. Harga Perbedaan terakhir tentu ada pada harga. JAECOO J5 EV Standar dipasarkan dengan banderol Rp249.900.000, sedangkan varian Premium dibanderol Rp299.900.000. Meski demikian, harga tersebut masih bersifat dinamis dan berpotensi dipengaruhi kebijakan pemerintah terkait insentif kendaraan listrik. Terkait hal ini, PR Supervisor JAECOO Indonesia, Niki Tamara, menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu kepastian regulasi. “Untuk itu masih didiskusikan, karena saat ini dari pemerintah belum ada kejelasan soal skema insentif,” ujar Niki Tamara. Dengan memahami tujuh perbedaan JAECOO J5 EV Standar dan Premium ini, konsumen di awal 2026 dapat menentukan pilihan secara lebih rasional, menyesuaikan kebutuhan fitur dan kenyamanan dengan anggaran yang dimiliki, sembari menunggu kepastian insentif EV dari pemerintah. Lihat Selengkapnya

TANYA LEBIH JAUH TENTANG UNIT

Goodfriends bisa bertanya lebih jauh tentang ketersediaan unit, promo & benefit menarik, negosiasi harga ataupun simulasi kredit yang sesuai dengan kebutuhan Anda.