Perbedaan Jetour T1 dan T1 i-DM, Kenali Sebelum Pilih04 Jun 2026
Perbedaan Jetour T1 dan T1 i-DM, Kenali Sebelum Pilih04 Jun 2026
Jakarta, Goodcar.id – Seperti apa perbedaan Jetour T1 dan T1 i-DM? Sekilas, Jetour T1 dan T1 i-DM memang terlihat seperti mobil kembar.
Dimensi identik, desain nyaris sama, bahkan daftar fitur keselamatannya dibuat tanpa banyak perbedaan. Buat yang hanya melihat dari luar, dua SUV ini bisa dengan mudah dianggap kembar tanpa karakter, padahal perbedaan justru cukup signifikan.
Secara dimensi perbedaan Jetour T1 dan T1 i-DM tidak ada yang perlu diperdebatkan. Keduanya punya panjang 4.705 mm, lebar 1.967 mm, tinggi 1.843 mm, dan wheelbase 2.800 mm. Proporsinya identik, stance-nya pun serupa.
Perbedaan Jetour T1 dan T1 i-DM lainnya, Jetour T1 punya ground clearance 200 mm, sedikit lebih tinggi dibandingkan T1 i-DM yang berada di angka 190 mm. Selisih ini dimungkin kan karena adanya penambahan bobot baterai dan komponen motor hybrid.
Salah perbedaan Jetour T1 dan T1 i-DM menarik lainnya adalah detail teknis pada departure angle, yakni sudut bagian belakang mobil saat melewati turunan atau keluar dari medan curam.
Pada aspek ini, Jetour T1 i-DM mencatatkan angka 33 derajat, sedikit lebih besar dibandingkan Jetour T1 yang berada di 29 derajat.
Selisih ini memang terlihat kecil di atas kertas, namun tetap memberi implikasi pada kemampuan mobil saat melintasi kontur jalan yang tidak rata.
Dengan sudut yang lebih besar, bagian belakang T1 i-DM memiliki ruang gerak yang lebih baik ketika melewati turunan tajam, sehingga potensi bersinggungan dengan permukaan jalan dapat diminimalkan.
Mesin dan Sistem Penggerak
Perbedaan Jetour T1 dan T1 i-D pada sektor mesin, Jetour T1 memang terlihat lebih unggul dengan 170 PS dan torsi 270 Nm. Sementara T1 i-DM mencatatkan 136 PS dan 220 Nm dari mesin bensinnya.
Namun, perbandingan ini belum lengkap.
T1 i-DM membawa sistem plug-in hybrid yang dipadukan dengan motor listrik bertenaga 204 PS dan torsi 310 Nm. Inilah faktor pembeda utamanya.
Karakter tenaga yang dihasilkan motor listrik jauh berbeda dengan mesin konvensional.
Responsnya instan, tanpa jeda, tanpa perlu menunggu putaran mesin naik.
Dalam kondisi lalu lintas kota yang padat, sensasi berkendaranya bisa terasa lebih ringan dan halus.
Transisinya juga lebih smooth berkat penggunaan Dedicated Hybrid Transmission (1DHT), berbeda dengan T1 yang mengandalkan transmisi 7DCT dengan karakter lebih agresif.
Dengan kata lain, T1 unggul di angka performa konvensional, sementara T1 i-DM menawarkan pengalaman berkendara yang lebih modern dan responsif.
Perbedaan semakin terasa saat membahas baterai. Jetour T1 i-DM dibekali baterai LFP berkapasitas 18,4 kWh, yang menempatkannya sebagai plug-in hybrid dengan kemampuan lebih dari sekadar hybrid biasa.
Dalam kondisi tertentu, mobil ini bisa berjalan dengan dominasi tenaga listrik, memberikan efisiensi yang lebih baik terutama di penggunaan dalam kota.
Sebaliknya, Jetour T1 tetap menggunakan pendekatan konvensional tanpa sistem elektrifikasi tambahan.
Roda, Rem & Suspensi
Masuk ke bagian kaki-kaki, T1 menggunakan ban 235/65 R18, sementara T1 i-DM mengusung ukuran lebih besar, yakni 235/60 R19 dengan run-flat tire.
Suspensi keduanya tetap sama, menggunakan MacPherson di depan dan multi-link di belakang.
Artinya, perbedaan rasa berkendara lebih banyak dipengaruhi oleh ukuran roda dan karakter ban, bukan dari konstruksi suspensinya.
Masuk ke interior, perbedaan mulai terasa lebih jelas. Jetour T1 menggunakan head unit berukuran 12,8 inci, sementara T1 i-DM sudah mengadopsi layar 15,6 inci yang terasa lebih dominan di dashboard.
Keduanya memang sama-sama menggunakan chip Snapdragon 8155 dan memiliki cluster digital 10,25 inci, namun fitur tambahan di T1 i-DM membuat pengalaman kabin terasa lebih lengkap.
T1 i-DM hadir dengan panoramic skyroof 64 inci, sistem audio 9 speaker dari Sony, ambient light dengan 64 pilihan warna, serta fitur 24-hour parking AC. Sementara T1 masih menggunakan konfigurasi 8 speaker dan ambient light satu warna.
Perbedaan ini tidak hanya soal fitur, tapi juga membentuk ambience kabin yang berbeda. T1 i-DM terasa lebih premium dan lebih “hidup”, terutama saat digunakan di malam hari atau perjalanan jauh.
Kabin
Detail kecil lain yang cukup terasa ada di kursi. T1 hanya menyediakan pengaturan elektrik untuk pengemudi, sementara T1 i-DM sudah memberikan electric seat untuk pengemudi dan penumpang depan, lengkap dengan memory seat.
Fitur ventilated seat tetap tersedia di keduanya, menjaga kenyamanan di iklim tropis.
Menariknya, saat masuk ke sektor keselamatan, Jetour justru tidak membuat perbedaan berarti. Kedua model sama-sama dilengkapi 6 airbags, TPMS, ISOFIX, serta fitur standar seperti ABS, EBD, BAS, TCS, ESC, dan EPB.
Fitur ADAS Level 2 juga hadir lengkap di keduanya, mulai dari Blind Spot Detection, Lane Departure Warning, Adaptive Cruise Control, hingga Autonomous Emergency Braking dan 540-degree camera.
Satu-satunya pembeda hanya pada radar parkir, di mana T1 i-DM memiliki sensor depan dan belakang, sementara T1 hanya di belakang.
Ini menunjukkan bahwa Jetour tetap menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama tanpa membedakan varian.
Pada akhirnya, memilih antara Jetour T1 dan T1 i-DM bukan soal mana yang lebih unggul secara mutlak. Keduanya dirancang untuk kebutuhan yang berbeda.
T1 cocok untuk pengguna yang menginginkan SUV praktis, simpel, dan tidak ingin repot dengan sistem elektrifikasi. Ground clearance yang lebih tinggi juga memberi rasa aman untuk berbagai kondisi jalan.
Sementara T1 i-DM menawarkan pendekatan yang lebih modern, dengan performa responsif, fitur lebih lengkap, dan potensi efisiensi lebih baik.
Perbedaan Jetour T1 vs T1 i-DM
Jetour T1 :
Mesin 1.5 TGDI 170 PS.
Transmisi 7DCT.
Ground clearance lebih tinggi (200 mm).
Velg 18 inci.
Head unit 12,8 inci.
Audio 8 speaker.
Jetour T1 i-DM
Sistem plug-in hybrid (PHEV).
Motor listrik 204 PS dan torsi 310 Nm.
Baterai LFP 18,4 kWh.
Velg 19 inci RFT.
Head unit 15,6 inci.
Audio Sony 9 speaker.
Kursi elektrik depan lebih lengkap.
Ambient light 64 warna.
Panoramic skyroof.
Parking radar depan-belakang.
Departure angle lebih besar (33°).
Lihat Selengkapnya
Nissan Perkuat Komitmen Elektrifikasi Lewat “Journey of Legacy” Bersama The All-New X-Trail e-POWER with e-4ORCE22 Oct 2025
Nissan Perkuat Komitmen Elektrifikasi Lewat “Journey of Legacy” Bersama The All-New X-Trail e-POWER with e-4ORCE22 Oct 2025
Jakarta,Goodcar.id - PT Nissan Motor Distributor Indonesia (NMDI) kembali menunjukkan keseriusannya dalam menghadirkan mobilitas elektrifikasi di Tanah Air melalui acara Media Driving Experience bertajuk “Journey of Legacy”. Dalam kegiatan ini, para jurnalis diajak merasakan langsung performa serta kenyamanan The All-New Nissan X-Trail e-POWER with e-4ORCE, melintasi rute jalan raya hingga pegunungan.
Acara ini menjadi bukti nyata komitmen Nissan untuk memberikan pengalaman berkendara yang menyatukan teknologi elektrifikasi, kontrol presisi, dan kenyamanan premium. Semangat ini sejalan dengan visi global Nissan, Driven by Tomorrow, menuju masa depan mobilitas yang berkelanjutan.
“Melalui All-New Nissan X-Trail e-POWER with e-4ORCE, kami ingin memberikan pengalaman langsung kepada rekan-rekan media tentang bagaimana inovasi elektrifikasi Nissan menghadirkan sensasi berkendara yang menyenangkan tanpa batas. Teknologi e-POWER memungkinkan konsumen merasakan performa mobil listrik tanpa perlu khawatir soal pengisian daya, sementara e-4ORCE memberikan kendali stabil dan nyaman di berbagai kondisi jalan.” kata Bima Aristantyo, Head of Sales and Product Planning NMDI.
Smart, Powerful, and Electrified — SUV Keluarga Modern
Sebagai generasi keempat, Nissan X-Trail terbaru mempertegas posisi Nissan sebagai pionir teknologi elektrifikasi di Indonesia, melengkapi lini e-POWER sebelumnya seperti Kicks dan Serena. Mobil ini dirancang untuk keluarga aktif dan dinamis yang mencari kendaraan fun, easy, smooth, dan smart — cocok untuk aktivitas harian di perkotaan maupun petualangan akhir pekan di alam terbuka.
Berbeda dengan hybrid konvensional, sistem e-POWER bekerja sepenuhnya dengan motor listrik. Mesin bensin hanya berfungsi sebagai generator untuk mengisi baterai, sehingga menghasilkan sensasi khas mobil listrik: akselerasi instan, deselerasi halus melalui regenerative braking, dan respons spontan terhadap pedal gas.
Sejak pertama kali diperkenalkan pada 2016, teknologi e-POWER terus dikembangkan melalui peningkatan sistem engine control, regenerative control, dan efisiensi motor listrik. Hasilnya, pengalaman berkendara kini semakin mendekati mobil listrik murni (EV) — lebih senyap, efisien, dan menyenangkan tanpa perlu khawatir soal infrastruktur pengisian daya.
e-4ORCE: Tenaga Terkendali, Stabilitas Maksimal
Salah satu fitur unggulan X-Trail terbaru adalah teknologi e-4ORCE, sistem all-wheel drive elektrik yang menggunakan dua motor listrik di depan dan belakang. Kombinasi ini memberikan sensasi akselerasi kuat sekaligus halus, membuat kendaraan tetap stabil di berbagai medan.
Teknologi e-4ORCE juga membantu pengendalian saat berbelok agar lebih presisi dan meminimalkan guncangan di seluruh kabin, meningkatkan kenyamanan bagi semua penumpang. Kolaborasi antara e-POWER dan e-4ORCE menjadikan X-Trail SUV yang tangguh di segala kondisi tanpa mengorbankan kenyamanan dan keseruan berkendara.
Where Comfort Meets Innovation
Untuk menciptakan pengalaman premium di setiap perjalanan, The All-New Nissan X-Trail e-POWER dibekali berbagai fitur modern, antara lain:
Triple Zone AC, 12.3” Headunit dengan Apple CarPlay & Android Auto
BOSE Premium Sound System dengan 9 speaker dan kaca depan sound insulation untuk kabin senyap
Panoramic Sunroof, 10-way Electric Zero Gravity Seats, Wireless Charger, dan Rear Sunshade
Sistem keselamatan canggih Nissan 360 Safety Shield, meliputi Intelligent Cruise Control, Predictive Forward Collision Warning, Blind Spot Warning, serta Rear Cross Traffic Alert.
Selain itu, fitur e-Pedal Step memungkinkan pengemudi mengontrol akselerasi dan perlambatan hanya dengan satu pedal — membuat pengalaman berkendara lebih intuitif dan efisien.
Driven by Tomorrow — Menuju Masa Depan Bebas Emisi
Dalam misinya mencapai carbon neutrality, Nissan berkomitmen memperluas jajaran kendaraan elektrifikasi di Indonesia.
Bima Aristantyo menambahkan “Kami percaya, SUV ini adalah pilihan ideal bagi mereka yang menyukai petualangan dan ingin terus mengeksplorasi keindahan Indonesia. Dengan teknologi elektrifikasi Nissan, setiap perjalanan bukan hanya tentang destinasi, tetapi juga tentang bagaimana kita menikmati prosesnya—lebih tenang, efisien, dan berkontribusi terhadap lingkungan yang lebih hijau.”
Teknologi e-POWER menjadi langkah strategis Nissan dalam menuju kendaraan listrik sepenuhnya (BEV), menjawab kebutuhan konsumen akan efisiensi dan kenyamanan berkendara di berbagai situasi.
Sebagai bagian dari komitmen global Nissan dalam menciptakan masa depan yang berkelanjutan, NMDI akan terus menghadirkan inovasi elektrifikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia. Melalui teknologi e-POWER dan e-4ORCE, serta dukungan terhadap ekosistem kendaraan listrik nasional, Nissan bertekad menjadi bagian dari perjalanan menuju Net Zero Emission — menghadirkan mobilitas yang bersih, aman, dan menyenangkan bagi semua.
Lihat Selengkapnya
Harga Castrol POWER1 ULTIMATE 10W-50 Terbaru, Klaim Teruji di Jalanan Indonesia dan Lebih Kencang30 Sep 2025
Harga Castrol POWER1 ULTIMATE 10W-50 Terbaru, Klaim Teruji di Jalanan Indonesia dan Lebih Kencang30 Sep 2025
Jakarta, Goodcar.id – Berapa harga Castrol POWER1 ULTIMATE 10W-50 terbaru? Castrol Indonesia resmi merilis Castrol POWER1 ULTIMATE SUPERBIKE 10W-50, oli full synthetic yang dirancang untuk motor di atas 250 cc.
Kalau ditarik ke belakang, Castrol bukan pemain baru di dunia pelumas. Pengalaman panjang di ajang balap internasional mereka bawa ke produk ini melalui teknologi 5-in-1 Racing Ester Formula. Formula tersebut menawarkan lima aspek penting: akselerasi lebih responsif, perlindungan mesin hingga 50% lebih baik dibanding standar industri, performa tahan lama di perjalanan jauh, suara mesin lebih halus, dan kestabilan suhu untuk mencegah overheating.
“Castrol POWER1 ULTIMATE SUPERBIKE 10W-50 telah melalui rangkaian pengujian global dan langsung dipakai pengendara lokal di berbagai kondisi ekstrem. Hasilnya, konsumen merasakan peningkatan akselerasi signifikan serta performa mesin yang tetap bertenaga,” kata Enjelita Jahja, President Director Castrol Indonesia, saat peluncuran di Jakarta (30/9).
Klaim Teruji 3.000 Km di Jalan Indonesia
Bukan sekadar klaim laboratorium, oli ini sudah diuji lewat touring lintas Jawa sejauh lebih dari 3.000 km. Raka Pranaya, salah satu rider yang mencoba, menuturkan pengalamannya menggunakan Castrol POWER1 ULTIMATE di Kawasaki ZX636 dan Kawasaki Versys 650.
“Dari awal sudah terasa smooth shifting-nya, bahkan untuk clutchless shifting pun selalu pas. Temperatur motor ZX636 juga lebih stabil, biasanya bisa di atas 90°C, tapi dengan oli ini bertahan di kisaran 83–88°C. Untuk tenaga dan akselerasi juga terasa mantap,” ujarnya.
Hasil uji akselerasi juga mencatat keunggulan menarik: motor yang menggunakan oli ini bisa melesat hingga 8 meter lebih cepat dibanding kompetitor dalam simulasi jarak pendek.
Castrol menegaskan bahwa teknologi Racing Ester Formula yang dipakai produk ini bukan sekadar gimmick. Ester dikenal sebagai bahan premium untuk pelumas karena mampu mengurangi gesekan, memperpanjang umur mesin, dan menjaga performa di kondisi ekstrem.
Bahkan, formula yang sama juga dipakai di lintasan MotoGP. Castrol saat ini menjadi partner teknis tiga tim balap, termasuk Castrol LCR Honda MotoGP™ Team.
“Setiap trek MotoGP menuntut performa maksimal. Mandalika, misalnya, punya suhu tinggi dan lintasan yang menuntut keandalan ekstra. Castrol POWER1 ULTIMATE SUPERBIKE 10W-50 dengan Racing Ester Formula memberikan kestabilan dan tenaga optimal pada mesin,” kata Johann Zarco, pembalap Castrol Honda LCR MotoGP™ Team.
Bagi pemilik superbike di Indonesia, kehadiran oli ini memberi opsi lebih spesifik untuk menjaga performa mesin besar yang cenderung panas dan bekerja keras. Uji nyata di jalanan lokal plus validasi dari lintasan balap membuat produk ini relevan untuk pengguna harian maupun penghobi touring.
Castrol POWER1 ULTIMATE SUPERBIKE 10W-50 kini sudah tersedia di bengkel spesialis motor besar di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya. Harga jualnya dibanderol sekitar Rp300 ribu per botol.
Lihat Selengkapnya
Mitsubishi Destinator Peluru Terakhir Mitsubishi! Lawannya Berat ada CR-V, Tiggo 8, dan Zenix21 Jul 2025
Mitsubishi Destinator Peluru Terakhir Mitsubishi! Lawannya Berat ada CR-V, Tiggo 8, dan Zenix21 Jul 2025
Jakarta, Goodcar.id - Mitsubishi Motors resmi memperkenalkan Destinator sebagai model global terbaru mereka di ajang GIIAS 2025. Hadir sebagai SUV 7-penumpang bermesin turbo, Destinator menjadi taruhan besar Mitsubishi di segmen SUV menengah. Setelah kegagalan Xforce menembus pasar seperti yang diharapkan, kehadiran Destinator seolah jadi peluru terakhir Mitsubishi di segmen panas ini.
Pertanyaannya, cukupkah spesifikasi dan fitur yang ditawarkan Destinator untuk menandingi dominasi Honda CR-V Turbo, Chery Tiggo 8 Pro, dan Toyota Innova Zenix Hybrid?
Dibanderol Rp500 Jutaan, Langsung Mengincar Tiggo 8 Pro
Meski harga resminya belum diumumkan, Mitsubishi mengisyaratkan bahwa varian tertinggi Destinator akan berada di kisaran Rp500 jutaan (OTR Jakarta). Artinya, ia langsung bertarung head-to-head dengan Chery Tiggo 8 Pro, SUV 7-penumpang yang dikenal sangat kompetitif dari segi fitur dan harga.
Tapi menariknya, dari sisi spesifikasi mesin, Destinator justru lebih sepadan untuk menghadapi Honda CR-V Turbo yang dibanderol sedikit lebih tinggi, di kisaran Rp600 jutaan. Bahkan, jika mempertimbangkan kenyamanan kabin dan nilai efisiensi bahan bakar, Destinator juga bakal bersaing tak langsung dengan Toyota Innova Zenix Hybrid yang sudah lebih dulu mapan di pasar fleet maupun keluarga urban.
Perbandingan Mesin: Turbo Kencang, Tapi Masih Kalah Taji
Secara teknis, Mitsubishi Destinator mengusung mesin 1.5L turbo MIVEC berkode 4B40 yang menghasilkan tenaga 163 PS dan torsi 250 Nm. Mesin ini dikombinasikan dengan transmisi CVT dan penggerak roda depan (FWD). Ada juga teknologi Active Yaw Control (AYC) dan lima mode berkendara, yang disebut-sebut meningkatkan traksi di berbagai kondisi jalan.
Namun, jika melihat kompetitornya, angka ini terbilang konservatif.
Dari tabel di atas, terlihat jelas bahwa Destinator kalah tenaga dibanding CR-V dan jauh di bawah Tiggo 8 Pro. Bahkan jika dibandingkan dengan Innova Zenix Hybrid, tenaga puncaknya juga tidak dominan. Tapi Mitsubishi bisa jadi sengaja memilih setelan ini untuk menekan konsumsi bahan bakar dan memberikan pengendaraan yang smooth bagi pengguna keluarga.
3 Kekurangan Mitsubishi Destinator
Tak bisa dimungkiri, beberapa kekurangan teknis pada Destinator bisa menjadi batu sandungan di pasar SUV kompetitif:
1.Tenaga Paling Rendah di Kelasnya
Dengan hanya 163 PS, Destinator punya performa paling rendah dibanding tiga rival utama. Akselerasi dan respons mesin bisa terasa biasa saja, apalagi saat kondisi full load.
2. Transmisi CVT
CVT memang nyaman, tapi sensasi berkendara kurang menggigit jika dibandingkan transmisi DCT pada Tiggo 8 atau sistem e-CVT hybrid milik Zenix.
3. Belum AWD
Walau dibekali AYC, absennya penggerak AWD seperti di CR-V atau minimal versi e-Four seperti Zenix membuat Destinator kurang fleksibel untuk medan berat.
Keunggulan Mitsubishi Destinator
Namun bukan berarti Destinator tidak punya nilai jual. SUV ini dirakit lokal di Bekasi dengan kandungan komponen dalam negeri mencapai 70%, menjadikannya salah satu model strategis dari Mitsubishi untuk pasar Indonesia dan ASEAN.
Fitur unggulan seperti mode berkendara, kabin 7-seater yang lega, fitur keselamatan aktif, hingga desain eksterior yang maskulin tetap menjadi nilai jual. Selain itu, banderol harga di Rp500 jutaan bisa jadi pertimbangan kuat bagi konsumen yang mengincar SUV turbo tanpa harus menguras kantong seperti CR-V atau Fortuner.
GIIAS 2025 Moment Krusial Mitsubishi Destinator
Setelah Xpander dan Xforce, kini Mitsubishi menaruh harapan besar pada Destinator sebagai model strategis global ketiga. SUV 7-penumpang ini tak hanya dirancang untuk konsumen Indonesia, tapi juga untuk pasar ekspor lintas benua—mulai dari Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Afrika dan Amerika Latin.
Ambisinya pun tidak main-main. Presiden dan CEO Mitsubishi Motors, Takao Kato, menargetkan penjualan global Destinator sebesar 50.000 unit per tahun, “dengan kontribusi dari pasar Indonesia sekitar 10.000 unit hingga akhir Maret 2026,” katanya.
Dengan target sebesar itu dan statusnya sebagai andalan baru Mitsubishi di pasar SUV keluarga, tak berlebihan jika menyebut Destinator sebagai peluru terakhir Mitsubishi untuk menjaga eksistensinya di segmen panas ini.
Bila gagal, bisa jadi strategi pertumbuhan Mitsubishi di kawasan ASEAN berpotensi tersendat.
Belajar dari Kegagalan Xforce
Optimisme besar terhadap Destinator tentu tidak datang dari ruang hampa. Sebelumnya, Mitsubishi juga meluncurkan Xforce dengan ekspektasi tinggi. SUV kompak tersebut ditargetkan mampu mencetak penjualan 10.000 hingga 20.000 unit per tahun.
Namun kenyataan di lapangan jauh dari harapan. Hingga penghujung 2023, penjualan Xforce secara nasional tercatat hanya sekitar 2.000 unit. Lalu sepanjang dua bulan pertama 2024, angka penjualan hanya bertambah sekitar 600 unit lagi, dengan wilayah Jabodetabek menyumbang sekitar 300 unit per bulan. Capaian tersebut masih jauh dari proyeksi awal.
Yang lebih mengkhawatirkan, performa Xforce juga terlihat sangat fluktuatif. Pada Februari 2024, distribusi nasional hanya menyentuh angka 33 unit, lalu mendadak melonjak ke 425 unit di April 2024. Lonjakan ini tidak mencerminkan pertumbuhan yang organik, melainkan menandakan betapa sulitnya menjaga kestabilan permintaan di lapangan.
Mitsubishi sempat mencoba mendorong penjualan dengan merilis varian baru, Xforce Ultimate DS, yang sudah dibekali fitur keselamatan aktif atau ADAS. Model ini dirilis pada November 2024, dan diklaim memberikan peningkatan penjualan sekitar 20%. Tapi sekali lagi, capaian ini masih belum cukup untuk mendekati target awal.
Jika penjualan Destinator di bulan-bulan awal tidak langsung menunjukkan tren positif, seperti halnya yang terjadi pada Xforce, maka masa depan lini SUV keluarga Mitsubishi bisa kembali abu-abu. Karena itu, peluncuran resmi Destinator di GIIAS 2025 menjadi momen krusial.
Sebab, dalam kondisi pasar otomotif yang semakin kompetitif dan berubah cepat, Mitsubishi tidak lagi punya ruang untuk sekadar “coba-coba”. Jika Destinator tidak berhasil mencetak daya tarik yang berkelanjutan sejak awal, sulit membayangkan strategi jangka panjang Mitsubishi bisa berjalan mulus.
Lihat Selengkapnya
Goodfriends bisa bertanya lebih jauh tentang ketersediaan unit, promo & benefit menarik, negosiasi harga ataupun simulasi kredit yang sesuai dengan kebutuhan Anda.