Industri Otomotif Indonesia Klaim Siap Penuhi Kebutuhan Pick-Up Nasional27 Feb 2026
Industri Otomotif Indonesia Klaim Siap Penuhi Kebutuhan Pick-Up Nasional27 Feb 2026
Jakarta, Goodcar.id - Industri otomotif nasional menyatakan kesiapan untuk memenuhi kebutuhan kendaraan komersial di dalam negeri, khususnya segmen pick-up.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), yang sejak 1969 berperan sebagai asosiasi industri kendaraan bermotor di Indonesia.
GAIKINDO menyebut, bersama para anggotanya dan dengan dukungan pemerintah, industri otomotif nasional terus menyesuaikan perkembangan produk dengan kebutuhan masyarakat, termasuk untuk kendaraan roda empat atau lebih di segmen komersial.
Pengembangan Platform dari Pick-Up ke MPV
Dalam perjalanannya, industri otomotif Indonesia mengembangkan platform kendaraan komersial pick-up yang kemudian dikonversi menjadi kendaraan penumpang multi-guna (MPV). Awalnya, proses konversi dilakukan melalui kerja sama dengan industri karoseri.
Seiring waktu, pengembangan tersebut dilakukan lebih lanjut oleh pabrikan hingga menghasilkan kendaraan MPV yang diproduksi secara penuh di dalam negeri. Model MPV yang lahir dari pengembangan tersebut kini menjadi salah satu segmen kendaraan yang banyak digunakan masyarakat Indonesia dan juga dipasarkan di kawasan Asia Tenggara.
Pendekatan serupa disebut juga diterapkan dalam pengembangan kendaraan komersial pick-up untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor usaha di dalam negeri.
Pernyataan GAIKINDO soal Kapasitas Produksi
Ketua Harian sekaligus Ketua Penyelenggara Pameran dan Konferensi GAIKINDO, Anton Kumonty, menyampaikan bahwa industri otomotif Indonesia telah melakukan berbagai studi terkait pengembangan platform kendaraan komersial.
“Kami dari industri otomotif Indonesia telah menjalankan berbagai studi untuk menyesuaikan perkembangan platform kendaraan komersial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kegiatan usaha di dalam negeri, sehingga kami memiliki pengetahuan untuk membuat jenis kendaraan yang sesuai. Selain itu, kami juga memiliki kemampuan dan juga kapasitas untuk mengakomodir seluruh kebutuhan kendaraan komersial di dalam negeri,” ujar Anton.
Menurut data GAIKINDO, saat ini terdapat 61 perusahaan yang menjadi anggota asosiasi tersebut. Untuk kendaraan komersial kelas menengah ke bawah atau pick-up, produksi dilakukan oleh sejumlah perusahaan anggota, yaitu:
PT Suzuki Indomobil Motor
PT Isuzu Astra Motor Indonesia
PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor
PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors)
PT Sokonindo Automobile (DFSK)
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia
PT Astra Daihatsu Motor
Secara keseluruhan, kapasitas produksi kendaraan pick-up dari perusahaan-perusahaan tersebut disebut mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun.
Dampak ke Rantai Industri dan Tenaga Kerja
GAIKINDO juga menyampaikan bahwa satu unit kendaraan terdiri dari lebih dari 20.000 komponen yang melibatkan berbagai jenis bahan baku, seperti baja, kaca, karet, plastik, dan tekstil.
Komponen tersebut diproduksi oleh ribuan perusahaan di dalam negeri, termasuk pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM). Rantai industri otomotif nasional, baik dari sisi hulu (backward linkage) maupun hilir (forward linkage), disebut melibatkan sekitar 1,5 juta tenaga kerja.
Dalam pernyataannya, GAIKINDO bersama Gabungan Industri Alat-Alat Mobil & Motor (GIAMM) meminta agar pemerintah memberikan kesempatan kepada industri dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan kendaraan komersial nasional. Langkah tersebut dinilai dapat mengoptimalkan kapasitas produksi yang tersedia sekaligus menjaga keberlanjutan tenaga kerja di sektor otomotif.
Hingga saat ini, industri otomotif nasional mencatat kapasitas produksi pick-up ratusan ribu unit per tahun. Pernyataan asosiasi tersebut menegaskan posisi industri dalam negeri dalam konteks pemenuhan kebutuhan kendaraan komersial di pasar domestik.
Lihat Selengkapnya
Harga Wuling Eksion: SUV Hybrid Terbaru Siap Dijual di Indonesia, Segini Perkiraannya25 Feb 2026
Harga Wuling Eksion: SUV Hybrid Terbaru Siap Dijual di Indonesia, Segini Perkiraannya25 Feb 2026
Jakarta, Goodcar.id – Isu soal Harga Wuling Eksion mulai ramai dibahas setelah Wuling resmi memperkenalkan SUV terbarunya, Eksion, ke publik Indonesia. Model ini masuk dalam keluarga Darion dan akan melengkapi lini yang sebelumnya sudah diisi Cortez Darion EV dan PHEV.
Kehadiran Eksion menjadi langkah lanjutan strategi elektrifikasi Wuling. SUV ini diproyeksikan hadir dengan dua opsi jantung pacu, yakni listrik murni (EV) dan plug-in hybrid (PHEV), mengikuti pola yang sudah diterapkan di lini Darion.
Namun satu hal yang paling ditunggu tentu saja soal Harga Wuling Eksion. Sampai saat ini, banderol resminya memang belum diumumkan ke konsumen.
Harga Wuling Eksion Masih Ditahan, Ini Perkiraannya
Secara global, model yang diyakini menjadi basis Wuling Eksion adalah Xingguang 560 atau Starlight 560 yang sudah dipasarkan di Tiongkok. Di pasar asalnya, SUV tersebut dijual mulai 62.800 yuan hingga 98.800 yuan.
Jika dikonversi dengan kurs saat ini, angkanya setara kisaran Rp 152,5 juta sampai Rp 239,9 juta. Tentu saja angka tersebut belum termasuk pajak, biaya distribusi, serta penyesuaian spesifikasi untuk pasar Indonesia.
Artinya, Harga Wuling Eksion versi Indonesia sangat mungkin berada di atas angka tersebut.
Potensi Harga Wuling Eksion Dibanding Almaz RS Pro
Sebelumnya, Eksion sempat disebut-sebut sebagai penerus lini Almaz. Saat ini, Wuling Almaz RS Pro dipasarkan dengan harga Rp 405 juta untuk varian mesin bensin dan Rp 445 juta untuk tipe hybrid (on the road Jakarta).
Melihat positioning produk dan strategi elektrifikasi, ada kemungkinan harga Wuling Eksion akan sedikit lebih tinggi dari Almaz RS Pro Hybrid, terutama jika dibekali teknologi PHEV terbaru.
Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi soal rentang harga final yang akan ditawarkan ke pasar domestik.
Jadi Seri Eksklusif Dua Teknologi
Vice President Wuling Motors, Arif Pramadhana, menegaskan bahwa lini Darion memang disiapkan dengan standar tinggi untuk kebutuhan keluarga Indonesia.
“Darion telah mendapatkan sambutan yang sangat positif dari masyarakat Indonesia dan telah mengaplikasikan standar tinggi untuk memenuhi mobilitas keluarga,” ujar Arif dalam keterangannya.
Ia menambahkan, kehadiran Eksion menjadi bagian dari penguatan seri Darion yang akan tersedia dalam dua pilihan teknologi, yakni listrik murni dan plug-in hybrid.
Dengan strategi tersebut, Harga Wuling Eksion nantinya akan sangat bergantung pada varian baterai, kapasitas, serta fitur teknologi yang disematkan.
Kabar kehadiran Eksion sebenarnya sudah tercium sejak awal tahun. Wuling diketahui telah mendaftarkan nama “Eksion” di laman Pangkalan Data Kekayaan Intelektual (PDKI).
Tak lama setelah itu, model yang diduga sebagai Wuling Eksion juga sempat tertangkap kamera saat menjalani uji jalan dalam balutan kamuflase tebal. Hal ini memperkuat sinyal bahwa peluncuran komersialnya tinggal menunggu waktu.
Jika resmi dijual, Harga Wuling Eksion akan menentukan posisinya di pasar SUV crossover. Model ini berpotensi berhadapan langsung dengan Chery E5 maupun Chery C5 CSH yang lebih dulu bermain di segmen elektrifikasi.
Dengan dua opsi powertrain dan nama baru di lini Darion, Eksion jelas bukan sekadar facelift atau pembaruan minor. Wuling menempatkannya sebagai model strategis untuk memperluas pasar SUV elektrifikasi di Indonesia.
Untuk saat ini, publik masih harus menunggu pengumuman resmi terkait Harga Wuling Eksion. Namun melihat positioning produk, spesifikasi global, serta banderol Almaz RS Pro saat ini, besar kemungkinan SUV ini akan bermain di rentang harga Rp 400 jutaan atau sedikit di atasnya, tergantung varian.
Yang pasti, kehadiran Eksion menandai babak baru lini SUV Wuling di Indonesia. Tinggal menunggu waktu sampai Harga Wuling Eksion benar-benar diumumkan dan resmi dipasarkan ke konsumen Tanah Air.
Lihat Selengkapnya
GIICOMVEC 2026 Siap Digelar, Fokus Perkuat Industri Kendaraan Komersial25 Feb 2026
GIICOMVEC 2026 Siap Digelar, Fokus Perkuat Industri Kendaraan Komersial25 Feb 2026
Jakarta,GoodCar.id — GAIKINDO kembali menggelar GIICOMVEC 2026, pameran business-to-business khusus kendaraan komersial yang akan berlangsung pada 8–11 April 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran.
Ajang ini mendapat dukungan dari Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Tahun ini, GIICOMVEC hadir dengan perubahan signifikan, yakni pindah ke Hall B dan Hall C JIExpo untuk mengakomodasi peningkatan minat industri.
Total area pameran mencapai lebih dari 16.000 meter persegi. Lokasi baru ini diklaim menawarkan akses yang lebih mudah bagi pelaku usaha yang ingin menjajaki solusi transportasi komersial terkini.
Di tengah dinamika pasar domestik, ekspor otomotif Indonesia justru mencatat tren positif. Sepanjang 2025, ekspor kendaraan utuh (CBU) ke 93 negara mencapai 518.212 unit, naik 9,75 persen dibandingkan 2024 yang berada di angka 472.194 unit.
Dari jumlah tersebut, kendaraan komersial menyumbang 20.326 unit atau hampir 4 persen dari total ekspor nasional. Angka ini menegaskan peran kendaraan niaga sebagai salah satu penopang industri otomotif Indonesia di pasar global.
Ketua Umum GAIKINDO, Putu Juli Ardika, menegaskan capaian tersebut menjadi indikator bahwa manufaktur otomotif nasional semakin kompetitif.
“Capaian ekspor ini membuktikan kualitas produksi otomotif Indonesia diakui pasar global. Momentum ini harus dijaga melalui peningkatan kapasitas dan efisiensi produksi,” ujar Putu.
Saat ini, produksi kendaraan nasional berada di kisaran 1,2 juta unit per tahun dengan kapasitas terpasang mencapai 2,59 juta unit. Artinya, ruang ekspansi masih terbuka lebar.
GIICOMVEC Jadi Arena Ketemunya Produsen dan Buyer
Sebagai pameran B2B, GIICOMVEC dirancang untuk mempertemukan produsen dengan calon pembeli potensial, termasuk buyer mancanegara. Targetnya jelas: membuka peluang ekspor baru sekaligus memperluas penetrasi kendaraan niaga Indonesia.
Sejumlah merek kendaraan komersial dipastikan hadir, mulai dari Daihatsu, DFSK, Foton, Hino, Isuzu, JAC Motor, Mitsubishi Fuso, Suzuki, Toyota, hingga Wuling.
Tak hanya itu, area khusus China Pavilion juga akan hadir untuk menampilkan teknologi dan inovasi terbaru dari pelaku industri asal Tiongkok. Industri karoseri nasional serta sektor pendukung otomotif turut ambil bagian, memberikan gambaran menyeluruh mengenai ekosistem kendaraan komersial.
Ketua Penyelenggara Pameran dan Konferensi GAIKINDO, Anton Kumonty, menekankan bahwa GIICOMVEC bukan sekadar etalase produk.
“GIICOMVEC adalah platform terpadu bagi pelaku bisnis untuk menemukan solusi armada sesuai kebutuhan operasional. Pengunjung bisa mempelajari teknologi sasis, desain karoseri, hingga inovasi industri pendukung dalam satu waktu,” kata Anton.
Target 11 Ribu Trade Visitors
Penyelenggaraan keempat GIICOMVEC ini menargetkan lebih dari 11 ribu trade visitors. Mereka berasal dari sektor transportasi, logistik, manufaktur, jasa keuangan, ritel, energi, konstruksi, hingga instansi pemerintah.
GAIKINDO juga menggandeng berbagai asosiasi industri untuk memastikan partisipasi pelaku usaha berjalan optimal. Selain pameran, GIICOMVEC 2026 menghadirkan program Daily Seminar yang membahas isu bisnis aktual.
Salah satu agenda utama adalah seminar bersama KAMSELINDO yang mengangkat topik kepatuhan, keselamatan, serta risiko hukum dalam transportasi barang berbahaya dan beracun (B3).
Pengunjung juga dapat mengakses Demo Area Truck & Bus, area interaktif untuk menyaksikan sekaligus mencoba teknologi kendaraan komersial secara langsung. Fasilitas ini memberi kesempatan bagi pelaku usaha mengevaluasi performa unit sebelum mengambil keputusan investasi.
Sebagai pameran berbasis bisnis, GIICOMVEC tidak memberlakukan tiket masuk umum. Pelaku industri dapat mendaftar sebagai trade visitors melalui situs resmi GIICOMVEC.
Lihat Selengkapnya
Kapasitas Produksi Pick-Up Indonesia Bisa Dioptimalkan, GAIKINDO Siap Penuhi Kebutuhan20 Feb 2026
Kapasitas Produksi Pick-Up Indonesia Bisa Dioptimalkan, GAIKINDO Siap Penuhi Kebutuhan20 Feb 2026
Jakarta, Goodcar.id – Industri otomotif Indonesia sedang menghadapi tekanan penjualan dalam negeri, namun potensi produksi tetap besar. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) saat ini menaungi 61 perusahaan otomotif dengan total kapasitas produksi mencapai 2,5 juta unit kendaraan bermotor roda empat atau lebih per tahun.
Dari jumlah tersebut, produksi kendaraan komersial kelas menengah ke-bawah, terutama pick-up, masih belum dimanfaatkan secara optimal. Anggota GAIKINDO yang memproduksi kendaraan jenis ini antara lain:
PT Suzuki Indomobil Motor
PT Isuzu Astra Motor Indonesia
PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor
PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors)
PT Sokonindo Automobile (DFSK)
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN)
PT Astra Daihatsu Motor
Secara keseluruhan, kapasitas produksi pick-up anggota GAIKINDO bisa mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun, namun pemanfaatannya belum maksimal. Kendaraan ini umumnya mengadopsi sistem penggerak 4x2 dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40%, menjadikannya andalan untuk kebutuhan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia.
“Jaringan servis dan layanan purna jual yang luas membuat kendaraan komersial 4x2 ini mampu memenuhi kebutuhan konsumen secara merata,” kata Putu Juli Ardika, Ketua Umum GAIKINDO. Ia menambahkan, “Kendaraan penggerak 4x4 memang bisa diproduksi, tetapi membutuhkan waktu untuk persiapan produksi yang matang.”
Industri otomotif nasional juga menjadi penyumbang besar lapangan kerja, dengan total 1,5 juta pekerja yang terlibat di seluruh ekosistemnya. Meski penjualan domestik sempat tertekan di bawah 1 juta unit per tahun, Indonesia tetap mencatat capaian ekspor kendaraan yang signifikan, mencapai lebih dari 518.000 unit ke 93 negara.
Menanggapi rencana impor kendaraan dari India, Putu Juli Ardika menegaskan keyakinannya terhadap kemampuan industri lokal.
“Sebenarnya anggota GAIKINDO dan juga industri pendukungnya, termasuk industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM, memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan domestik. Hanya diperlukan waktu agar jumlah dan kriterianya sesuai,” jelas Putu Juli.
Ia menekankan bahwa dengan kesempatan dan waktu yang cukup, anggota GAIKINDO dan GIAMM dapat ikut memenuhi permintaan kendaraan komersial, sekaligus mengoptimalkan kapasitas produksi dalam negeri dan mencegah potensi pengurangan tenaga kerja akibat penurunan permintaan domestik.
Namun, di tengah kapasitas lokal yang masih dapat dioptimalkan, PT Agrinas Pangan Nusantara memilih untuk mengimpor kendaraan pick-up dari India guna mendukung program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Perseroan mengimpor sebanyak 70.000 unit mobil pick-up Tata Motors, terdiri dari Yodha Pick Up dan truk ringan Ultra T.7, masing-masing 35.000 unit. Sebelumnya, Agrinas juga mengimpor 35.000 unit pick-up Scorpio dari Mahindra, sehingga total kendaraan niaga impor dari India mencapai 105.000 unit.
Direktur PT Tata Motors Distribusi Indonesia, Asif Shamim, menuturkan, “Pesanan untuk Kopdes Merah Putih ini mencerminkan semakin meningkatnya penerimaan kendaraan komersial asal India di pasar global. Penggunaannya akan mendukung logistik pertanian di Indonesia dengan meningkatkan konektivitas, memungkinkan pergerakan barang yang lebih efisien di seluruh jaringan pedesaan dan regional.”
Kedua kendaraan ini dirancang untuk kinerja berkelanjutan dan efisiensi operasional. Tata Yodha Pick Up tersedia dalam varian single cab maupun crew cab, dengan opsi penggerak 4×2 dan 4×4, serta mesin 2,2 liter diesel bertenaga 100 PS dan torsi 250 Nm. Sedangkan Tata Ultra T.7 adalah truk ringan dengan mesin diesel 4 silinder, tenaga hingga 125 PS pada 2.800 rpm, torsi maksimal 360 Nm, dan kapasitas GVW sekitar 7.490 kg. Armada ini akan didistribusikan melalui koperasi pertanian dengan skema bertahap untuk memastikan integrasi dan operasi yang berkelanjutan.
Pesanan Agrinas menjadi yang terbesar dalam portofolio ekspor Tata Motors, ditujukan untuk sektor pertanian dan logistik pedesaan. Meskipun demikian, GAIKINDO tetap yakin bahwa kapasitas produksi pick-up dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan domestik jika diberikan waktu dan dukungan yang cukup, sehingga potensi impor bisa diminimalkan dan ekosistem industri lokal tetap terjaga.
Lihat Selengkapnya
Goodfriends bisa bertanya lebih jauh tentang ketersediaan unit, promo & benefit menarik, negosiasi harga ataupun simulasi kredit yang sesuai dengan kebutuhan Anda.