Jakarta, Goodcar.id - Penjualan mobil listrik di Singapura turun? Minat konsumen terhadap mobil listrik di Singapura menunjukkan tren penurunan.
Laporan terbaru EY Mobility Consumer Index (MCI) 2025 mengungkap adanya pergeseran preferensi pembeli kendaraan, yang kini mulai kembali mempertimbangkan mobil bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE).
Berdasarkan survei EY yang dirilis pada 9 Januari 2026, sebanyak 32 persen responden di Singapura menyatakan berencana membeli mobil ICE dalam 24 bulan ke depan. Angka tersebut naik dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 26 persen. Sebaliknya, minat pembelian mobil listrik (EV) turun cukup tajam, dari 73 persen pada 2024 menjadi 58 persen pada 2025.
EY mencatat, perubahan ini mencerminkan sikap konsumen yang semakin realistis dalam menilai kesiapan ekosistem kendaraan listrik, meskipun Singapura dikenal sebagai salah satu negara dengan kebijakan elektrifikasi transportasi yang progresif di Asia Tenggara.
Kekhawatiran Infrastruktur Jadi Faktor Penentu
Salah satu penyebab utama turunnya minat terhadap mobil listrik adalah persoalan pengisian daya. Dalam laporan EY Mobility Consumer Index 2025, 56 persen responden menyebut kualitas dan interoperabilitas charger publik sebagai hambatan utama adopsi EV. Artinya, konsumen masih menilai pengalaman pengisian daya belum sepenuhnya praktis dan konsisten.
Selain itu, biaya penggantian baterai juga menjadi kekhawatiran signifikan, disebut oleh 42 persen responden. Sementara 40 persen responden lainnya menyoroti keterbatasan infrastruktur pengisian daya, terutama dalam konteks penggunaan harian dan perjalanan jarak jauh.
Faktor-faktor ini menunjukkan bahwa harga kendaraan saja tidak cukup menjadi penentu keputusan pembelian EV. Biaya kepemilikan jangka panjang dan kenyamanan penggunaan tetap menjadi pertimbangan utama konsumen.
Di sisi lain, proses pembelian kendaraan di Singapura masih sangat bergantung pada diler fisik. EY mencatat 49 persen responden lebih memilih menyelesaikan transaksi pembelian secara langsung, meskipun angka ini menurun dibandingkan 65 persen pada 2024.
Menurut EY, konsumen tetap mengandalkan interaksi tatap muka untuk mendapatkan penjelasan menyeluruh terkait spesifikasi kendaraan, opsi pembiayaan, hingga pertimbangan kepemilikan jangka panjang. Hal ini berlaku baik untuk mobil listrik maupun kendaraan bermesin konvensional.
Penurunan minat terhadap mobil listrik di Singapura menjadi sinyal penting bagi industri otomotif dan pembuat kebijakan. Meski transisi menuju kendaraan listrik terus didorong, laporan EY menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen masih sangat dipengaruhi oleh kesiapan infrastruktur dan biaya nyata yang harus ditanggung pemilik kendaraan.
Bagi pabrikan dan pemerintah, hasil survei ini menegaskan bahwa percepatan adopsi EV tidak hanya soal insentif, tetapi juga soal memastikan pengalaman penggunaan yang praktis, terjangkau, dan bebas kekhawatiran bagi konsumen.