Makassar, Goodcar.id – Perjalanan lintas negara sejauh 27.000 kilometer menuju Mekkah yang dituntaskan Anshar alias Om Daeng dengan XMAX generasi pertama kini berlanjut dalam skala domestik. Awal 2026, ia memulai ekspedisi bertajuk Jelajah Sulawesi menggunakan Yamaha XMAX TECHMAX generasi terbaru.
Touring ini berlangsung selama 25 hari, sejak 17 Januari hingga 13 Februari, dengan total jarak tempuh sekitar 6.000 kilometer. Dalam periode tersebut, Om Daeng melintasi 69 kabupaten dan kota di Pulau Sulawesi.
Perjalanan dimulai dari Makassar, lalu bergerak ke Bulukumba, Bone, Malili, Kolaka, Kendari, Baubau, Morowali, Ampana, Luwuk Banggai, Gorontalo, Manado, Bitung, Palu, Mamuju, Pinrang hingga Toraja. Karakter jalur yang ditempuh pun beragam, mulai dari pesisir pantai, jalan antar kota, hingga pegunungan dengan kontur menantang.
Touring Sekaligus Misi Sosial
Jelajah Sulawesi tidak hanya soal jarak tempuh. Dalam setiap provinsi yang disinggahi, Om Daeng menyempatkan diri menjalankan kegiatan sosial.
Beberapa agenda yang dilakukan antara lain berbagi sembako di panti asuhan Baubau, berbagi sembako dan mainan anak di pondok pesantren Kotamobagu, hingga membagikan alat tulis di panti asuhan Palu. Kegiatan tersebut dilakukan di sela perjalanan touring yang padat.
“Kebahagiaan terbesar dalam perjalanan ini bukan hanya sampai tujuan dengan selamat dan menikmati keindahan alam Sulawesi, tapi bisa berbagi langsung dan melihat senyum anak-anak di setiap kota yang saya datangi serta bersilaturahmi dengan kawan-kawan sesama biker MAXI Yamaha,” ujar Om Daeng.
Ia juga menyebut hampir di setiap kota mendapatkan dukungan dari komunitas pengguna MAXI Yamaha setempat.
Dari seluruh rute yang dilalui, jalur Morowali menuju Luwuk Banggai di Sulawesi Tengah menjadi salah satu yang paling menguji konsentrasi. Jalan sempit di pegunungan, tanjakan panjang, turunan curam, serta tikungan teknikal mendominasi lintasan tersebut.
“Di sini benar-benar menguji fokus dan stamina. Tapi XMAX TECHMAX terasa lebih ringan dan lincah saat harus bermain di tikungan pegunungan,” kata Om Daeng.
Sebaliknya, rute Amurang menuju Kotamobagu disebut sebagai jalur paling indah. Lanskap pesisir yang tenang berpadu dengan udara pegunungan yang sejuk menjadi kombinasi yang kontras namun khas Sulawesi Utara.
Dalam perjalanan Jelajah Sulawesi, Om Daeng membandingkan pengalamannya dengan XMAX generasi pertama yang sebelumnya membawanya menembus 12 negara hingga Timur Tengah.
Menurutnya, ada peningkatan signifikan dari sisi handling dan kelincahan pada XMAX TECHMAX terbaru.
“Motor ini terasa lebih ramping, lebih lincah, dan lebih ringan. Handling jauh lebih enak, terutama untuk jalur pegunungan. Overall riding experience meningkat lebih baik,” ujarnya.
Salah satu fitur yang disebut membantu selama perjalanan jarak jauh adalah sistem navigasi Garmin Street Cross yang terintegrasi di panel TFT meter. Fitur ini memudahkan pemantauan rute tanpa harus membuka ponsel, terutama saat kondisi hujan.
Selain itu, jok model Eropa dengan sandaran atau lumbar support juga dinilai memberikan kenyamanan tambahan selama menempuh ribuan kilometer.
“Awalnya saya pikir navigasi tidak terlalu terpakai. Tapi ternyata sangat membantu dan petanya akurat. Saat hujan saya tidak perlu mengeluarkan HP lagi. Model jok Eropa ini juga enak digunakan, duduk lama tidak terasa pegal,” tambahnya.
Perjalanan Berlanjut ke NTT

Setelah menyelesaikan Jelajah Sulawesi sejauh 6.000 kilometer, Om Daeng tidak berhenti. Ia dijadwalkan melanjutkan ekspedisi ke Nusa Tenggara Timur dengan menyeberang dari Pelabuhan Bira, Sulawesi Selatan menuju Labuan Bajo.
Langkah ini menjadi kelanjutan dari misi eksplorasi dan kegiatan sosial yang telah dijalankan selama touring di Sulawesi. Dengan rute baru yang menanti, perjalanan Om Daeng bersama XMAX TECHMAX memasuki babak berikutnya.
Jelajah Sulawesi menjadi penanda bahwa perjalanan panjang bukan hanya soal menaklukkan jarak, tetapi juga soal konsistensi, ketahanan fisik, serta interaksi sosial di setiap kota yang disinggahi. Touring 6.000 kilometer dalam 25 hari membuktikan bahwa rute domestik pun menyimpan tantangan yang tak kalah kompleks dibanding lintas negara.