GoodCar.id - Pasar mobil listrik (Electric Vehicle) di Indonesia lagi kencang-kencangnya. Tapi, kalau kita bicara soal city car EV, rata-rata bentuknya kalau nggak futuristik banget, ya kotak minimalis. Sampai akhirnya gue dapet kesempatan buat cobain langsung dengan Changan Lumin pada 22 Januari kemarin. Mobil ini punya daya tarik yang beda, dan jujur, impresi gue berubah total dari saat cuma lihat fotonya sampai benar-benar duduk di balik kemudi.

Jujur aja, pas pertama kali unitnya ada di depan mata, kata pertama yang keluar dari mulut gue adalah: "Lucu banget!" Changan Lumin ini punya bahasa desain yang membulat (rounded) hampir di semua sisi. Lampu utamanya yang punya kelopak mata ala mobil di film animasi bikin dia kelihatan menggemaskan banget.
Untuk ukuran sebuah city car, Changan berhasil bikin mobil yang nggak intimidatif tapi tetap kelihatan modern. Warnanya yang biasanya pastel makin mempertegas kalau mobil ini memang mengincar mereka yang ingin tampil beda di tengah padatnya lalu lintas kota yang membosankan. Tapi, jangan ketipu sama tampang imutnya, karena pas kita bicara soal dimensi dan fungsionalitas, ada kejutan besar di dalamnya.
Ini poin yang paling penting. Biasanya, mobil mungil begini bakal bikin orang dengan tinggi badan di atas 170 cm merasa skeptis. Gue sendiri punya tinggi 171 cm, dan ekspektasi awal gue adalah bakal merasa "terjepit" atau minimal lutut bakal sering mentok. Tapi pas pintu dibuka dan gue masuk, gue agak kaget. Space yang disediakan di bagian depan itu luas banget! Legroom-nya sangat lega, dan plafonnya cukup tinggi sehingga nggak ada kesan claustrophobic. Changan pintar memaksimalkan ruang kabin sehingga pilar-pilarnya nggak terasa mengintimidasi ruang gerak.
Nggak cuma di depan, gue pun coba pindah ke baris kedua. Biasanya, baris kedua di mobil mikro EV cuma jadi pajangan atau tempat naruh tas. Tapi di Lumin, gue masih bisa duduk dengan layak. Legroom di belakang masih menyisakan ruang yang cukup buat orang dewasa, meski memang lebih ideal dan aman banget kalau area ini dialokasikan buat anak-anak atau barang belanjaan yang agak banyak.
Masuk ke posisi pengemudi, ada satu hal yang menurut gue jadi catatan bagi calon pembeli. Bagian steering wheel atau setirnya itu permanen. Artinya, nggak ada fitur tilt (naik-turun) apalagi telescopic (maju-mundur). Buat gue yang tingginya 171 cm, posisi setirnya sebenarnya masih masuk kategori oke, tapi buat orang yang punya preferensi posisi duduk spesifik, absennya pengaturan setir ini bakal bikin lo harus sedikit berkompromi dengan posisi kursi. Tapi untungnya, kursinya sendiri cukup nyaman dipeluk, jadi masalah setir ini perlahan terlupakan pas mobil sudah mulai jalan.
Di bagian dasbor, lo nggak akan nemuin banyak tombol fisik yang bikin pusing. Semuanya serba digital dan minimalis.
MID Full Digital: Panel instrumen di depan setir sudah full digital, ngasih info soal sisa baterai, kecepatan, dan mode berkendara dengan grafis yang bersih.
Head Unit 10.25 Inchi: Ini bintang utamanya. Layar infotainment-nya gede banget buat mobil seukuran ini. Yang paling gue apresiasi adalah dukungannya terhadap Apple CarPlay. Jadi, urusan navigasi pakai Google Maps atau dengerin Spotify sudah tinggal sat-set, nggak ribet.
Audio: Kualitas suaranya? Untuk mobil di kelas ini, menurut gue lumayan oke. Karakter suaranya cukup jernih buat nemenin lo macet-macetan di Sudirman atau sekadar keliling kompleks.
Kebetulan pas gue tes kemarin, cuaca di Jakarta lagi nggak kompromi. Hujan turun sangat lebat. Di sini gue bisa ngerasain real-life scenario pengguna mobil ini. Dari sisi kekedapan kabin, jujur saja mobil ini memang tidak terlalu kedap. Suara rintik hujan yang deras di atap dan suara cipratan air dari ban masih terdengar masuk ke dalam. Ya, kita harus realistis, untuk mobil dengan harga di bawah Rp200 juta, tentu ada sektor yang harus dikompromi, dan peredaman suara adalah salah satunya.
Namun, yang bikin gue tenang adalah ground clearance-nya yang setinggi 150 mm. Pas gue lewat jalan tol dan ketemu beberapa genangan air yang lumayan tinggi akibat hujan lebat, Lumin tetap stabil. Nggak ada rasa melayang atau khawatir air bakal masuk ke area sensitif. Mobil ini terasa solid dan "napak" di aspal.

Ini bagian yang paling bikin gue senyum-senyum sendiri. Driving experience Changan Lumin ini mengejutkan banget! Sebagai mobil listrik, torsi instannya terasa nyata. Mobil ini sangat responsif, terutama saat diajak stop and go di kemacetan. Suspensinya menurut gue jempolan. Nggak terlalu keras sampai bikin badan pegal, tapi juga nggak terlalu empuk yang bikin mobil terasa limbung. Diajak manuver selap-selip di antara mobil-mobil besar atau masuk ke gang sempit itu terasa gampang banget. Radius putarnya yang kecil makin memantapkan posisinya sebagai raja jalanan kota.
Kecepatan maksimumnya memang nggak "lebay" atau didesain buat balapan di sirkuit, tapi buat apa juga kan? Di dalam kota, kita butuh efisiensi. Range baterainya menurut gue sangat cukup untuk mobilitas harian komuter dari pinggiran kota ke pusat kota dan balik lagi tanpa harus sering-sering mampir ke SPKLU.
Spesifikasi Changan Lumin
Dimensi Mobil
Baterai & Performa