Beranda / Motor Baru / Katalog / SELIS GEMINI ELECTRIC SCOOTER

SELIS GEMINI ELECTRIC SCOOTER

Rp 6.5 Juta
Jarak Tempuh
30 KM
Mesin
Electric (500W motor, 48 V battery)
Jenis Bahan Bakar
Listrik
Transmisi
Matic
Jarak Tempuh
30 KM
Foto Eksterior
Pilihan Warna
Ciptakan gayamu dengan berbagai pilihan warna
5 Pilihan Warna
Tipe Kendaraan
SELIS GEMINI ELECTRIC SCOOTER
Rp 6.5 Juta
Dapatkan Ekslusif Promo
Fitur Kendaraan
SELIS GEMINI ELECTRIC SCOOTER
Jarak Tempuh
30 KM
Jenis Bahan Bakar
Listrik
Mesin
Electric (500W motor, 48 V battery)
USB
Alarm
Bluetooth
Abs Ebd
Navigation
Drive Type
Cruise Control
JADWALKAN TEST DRIVE MOTOR
SELIS GEMINI ELECTRIC SCOOTER
Artikel Terkait
Lihat Semua
BBM Naik, Apakah Mobil Listrik Lebih Hemat?
10 Jun 2026
BBM Naik, Apakah Mobil Listrik Lebih Hemat? 10 Jun 2026 Jakarta, Goodcar.id - Kenaikan harga BBM kembali jadi topik panas. Setiap kali harga bensin naik, satu pertanyaan yang langsung muncul di kepala banyak orang adalah: apakah mobil listrik benar-benar lebih hemat dibanding mobil bensin? Pertanyaan ini wajar, apalagi bagi pengguna mobil harian yang merasakan langsung dampaknya. Biaya operasional yang tadinya terasa ringan, mendadak membengkak hanya karena selisih harga per liter. Namun, sebelum buru-buru menyimpulkan bahwa mobil listrik pasti lebih murah, ada baiknya kita lihat dulu hitung-hitungan realistisnya. Karena pada praktiknya, hemat atau tidaknya sangat bergantung pada pola pemakaian. Simulasi Biaya BBM Mobil Bensin Setelah Harga Naik Mari mulai dari mobil konvensional. Kita ambil contoh mobil dengan konsumsi BBM rata-rata 12 km/liter, angka yang cukup umum untuk penggunaan kombinasi dalam kota dan luar kota. Dengan asumsi harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax sudah menyentuh sekitar Rp16.000 per liter, maka: 1 liter = 12 km Biaya per km = Rp16.000 ÷ 12 ≈ Rp1.333 per km Jika dalam sehari kamu menempuh 30 km, maka: 30 km x Rp1.333 = Rp39.990 per hari Dalam sebulan (30 hari) = sekitar Rp1,2 juta Angka ini tentu bisa lebih besar jika mobil sering terjebak macet, karena konsumsi BBM biasanya akan lebih boros di kondisi stop-and-go. Simulasi Biaya Mobil Listrik, Lebih Murah? Sekarang kita bandingkan dengan mobil listrik. Salah satu keunggulan utama kendaraan listrik adalah efisiensi energi yang jauh lebih tinggi. Rata-rata konsumsi mobil listrik saat ini berada di kisaran: 1 kWh = 5–7 km Kita ambil angka tengah: 1 kWh = 6 km. Tarif listrik rumah tangga non-subsidi saat ini sekitar Rp1.444 per kWh. Maka: Biaya per km = Rp1.444 ÷ 6 ≈ Rp240 per km Bandingkan dengan mobil bensin tadi: Mobil bensin: Rp1.333/km Mobil listrik: Rp240/km Selisihnya cukup jauh, bahkan bisa lebih hemat hingga 80%. Jika kita gunakan skenario yang sama (30 km per hari): 30 km x Rp240 = Rp7.200 per hari Dalam sebulan = sekitar Rp216 ribu Dari sini terlihat jelas, secara biaya energi murni, mobil listrik memang jauh lebih hemat. Kenapa Mobil Listrik Bisa Lebih Efisien? Ada beberapa alasan kenapa mobil listrik unggul dalam hal efisiensi: Pertama, efisiensi energi. Motor listrik mampu mengubah energi menjadi tenaga hingga 90%, sementara mesin bensin hanya sekitar 30–40%. Sisanya terbuang jadi panas. Kedua, tidak ada idle consumption. Mobil bensin tetap mengonsumsi BBM saat berhenti di lampu merah. Mobil listrik? Tidak. Ketiga, sistem regeneratif. Mobil listrik bisa mengisi ulang baterai saat deselerasi atau pengereman, sesuatu yang tidak dimiliki mobil konvensional. Tapi Tidak Sesederhana Itu Meski terlihat sangat hemat di atas kertas, ada beberapa faktor yang sering luput dari perhitungan. Misal soal degradasi baterai. Baterai mobil listrik memiliki umur pakai. Seiring waktu, kapasitasnya akan menurun. Meski saat ini banyak pabrikan memberikan garansi baterai hingga 8 tahun, tetap saja ini menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam jangka panjang. Jadi, Lebih Hemat atau Tidak? Jawabannya: ya, tapi tergantung kondisi. Mobil listrik akan terasa jauh lebih hemat jika: Dipakai untuk harian dengan jarak rutin Mengisi daya di rumah Digunakan dalam jangka panjang (lebih dari 5 tahun) Tidak terlalu bergantung pada fast charging Sebaliknya, mobil listrik bisa terasa kurang optimal jika: Jarang dipakai (penghematan tidak terasa) Sering charging di luar Diganti dalam waktu singkat (kurang dari 3–4 tahun) BBM Naik Jadi Momentum Perubahan? Kenaikan harga BBM memang membuat banyak orang mulai mempertimbangkan alternatif. Mobil listrik jadi salah satu opsi yang paling sering dilirik. Namun, keputusan beralih ke mobil listrik sebaiknya tidak hanya didasarkan pada harga BBM semata. Perlu dilihat juga kebutuhan mobilitas, budget, hingga kesiapan infrastruktur di lingkungan pengguna. Di sisi lain, mobil hybrid juga mulai jadi opsi tengah yang cukup menarik. Konsumsi BBM lebih irit, tapi tanpa perlu bergantung penuh pada listrik. Lihat Selengkapnya
Harga BBM Hari Ini Naik, Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter
10 Jun 2026
Harga BBM Hari Ini Naik, Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter 10 Jun 2026 Jakarta, Goodcar.id - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali terjadi. Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga BBM non-subsidi mulai 10 Juni 2026, dengan lonjakan cukup signifikan pada produk Pertamax dan Pertamax Green. Berdasarkan keterangan resmi perusahaan yang diterima di Jakarta, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 (RON 95) ikut terkerek dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan ini langsung menjadi sorotan, mengingat selisihnya cukup jauh dibanding harga sebelumnya dan terjadi dalam satu kali penyesuaian. Pertamina: Penyesuaian Harga Sesuai Formula Pemerintah Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan bahwa perubahan harga ini bukan keputusan sepihak. "Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah," kata Roberth. Ia menjelaskan, mekanisme penentuan harga BBM non-subsidi mengacu pada evaluasi berkala yang mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk harga minyak dunia dan kondisi pasar. Menurutnya, keputusan tersebut juga telah melalui koordinasi dengan pemerintah sebagai regulator. Dipengaruhi Harga Minyak Dunia dan Keekonomian Dalam penjelasan lebih lanjut, Pertamina menyebut bahwa fluktuasi harga global menjadi faktor utama di balik kenaikan ini. Selain itu, harga pasar keekonomian juga menjadi variabel penting dalam menentukan harga jual ke konsumen. "Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," ujar Roberth. Pernyataan ini menegaskan bahwa aspek keberlanjutan pasokan energi menjadi alasan yang selalu dibawa dalam setiap kebijakan penyesuaian harga BBM. Harga BBM Lain Tidak Berubah Meski Pertamax dan Pertamax Green mengalami kenaikan tajam, tidak semua produk BBM ikut naik. Pertamina memastikan beberapa jenis BBM lainnya tetap stabil. Berikut rincian harga BBM per 10 Juni 2026: Pertamax (RON 92): Rp16.250 per liter (naik) Pertamax Green (RON 95): Rp17.000 per liter (naik) Pertamax Turbo (RON 98): Rp20.750 per liter (tetap) Dexlite (CN 51): Rp23.000 per liter (tetap) Pertamina Dex (CN 53): Rp24.800 per liter (tetap) Pertalite (subsidi): Rp10.000 per liter (tetap) Biosolar (subsidi): Rp6.800 per liter (tetap) Artinya, kenaikan hanya menyasar segmen BBM bensin non-subsidi dengan oktan menengah hingga tinggi. Pasokan BBM Dipastikan Aman di SPBU Di tengah kenaikan harga, isu yang kerap muncul adalah ketersediaan stok. Namun, Pertamina memastikan distribusi tetap berjalan normal. "Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina," kata Roberth. Pernyataan ini penting, terutama untuk meredam potensi panic buying atau lonjakan konsumsi yang biasanya terjadi saat harga berubah drastis. Dampak ke Konsumen dan Pola Konsumsi Kenaikan harga BBM non-subsidi berpotensi mengubah pola konsumsi masyarakat. Selisih harga yang kini makin jauh antara Pertamax dan Pertalite bisa mendorong sebagian pengguna beralih ke BBM subsidi. Namun di sisi lain, kebijakan ini juga bisa menjadi sinyal bagi pengguna kendaraan untuk mulai mempertimbangkan efisiensi, termasuk penggunaan kendaraan hybrid atau listrik. Selain itu, sektor transportasi dan logistik juga berpotensi terdampak secara tidak langsung, meski solar subsidi tidak mengalami perubahan harga. Cek Harga BBM Lewat Kanal Resmi Untuk memastikan informasi yang akurat, masyarakat disarankan memantau harga BBM melalui kanal resmi. "Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina, Pertamina Patra Niaga, maupun aplikasi MyPertamina," tutup Roberth. Langkah ini penting untuk menghindari informasi yang tidak valid, terutama di tengah cepatnya penyebaran kabar di media sosial. Lihat Selengkapnya
Rifat/Mayka Dominasi Sprint Rally Semarang 2026, Sapu Bersih SS
08 Jun 2026
Rifat/Mayka Dominasi Sprint Rally Semarang 2026, Sapu Bersih SS 08 Jun 2026 Semarang, GOODCAR.ID – Team RS–Telkomsel 5G menuntaskan Putaran 2 Kejuaraan Nasional Sprint Rally 2026 di Sirkuit POJ City, Semarang, dengan hasil yang tidak terbantahkan. Sepanjang akhir pekan, pasangan ayah dan anak, Rifat Sungkar dan El Mayka Sungkar, tampil konsisten dengan mencatatkan waktu tercepat di seluruh Special Stage (SS) yang dilombakan. Dominasi tersebut bukan hanya terlihat dari catatan waktu, tetapi juga dari cara mereka mengontrol jalannya lomba. Empat SS berhasil disapu bersih dengan performa stabil, menghasilkan total waktu 19 menit 1,3 detik. Catatan ini menempatkan mereka di posisi puncak Kelas R3 sekaligus memimpin Grup R. Di belakangnya, pasangan Indie Fiancoko/Fendi Go mencatatkan waktu 19 menit 14,7 detik, sementara posisi ketiga ditempati Iskra Scastia/Vicky Ramadhan dengan 19 menit 20,5 detik. Selisih waktu yang relatif tipis menunjukkan bahwa persaingan tetap ketat, meski Rifat dan Mayka terlihat lebih rapi dalam menjaga ritme. Namun, bagi Rifat Sungkar, hasil akhir bukanlah inti dari keikutsertaannya di musim ini. "Secara hasil tentu saya sangat puas. Kami bisa menjadi yang tercepat di seluruh special stage dan menyelesaikan balapan dengan baik. Namun yang paling membuat saya senang adalah perkembangan yang ditunjukkan Mayka selama akhir pekan ini," ujar Rifat Sungkar. Proses Belajar CO-DRIVER Menurut Rifat, keikutsertaan Team RS–Telkomsel 5G di Kejurnas Sprint Rally 2026 bukan semata mengejar podium. Ada agenda jangka panjang yang sedang dibangun, yakni membentuk El Mayka Sungkar sebagai generasi penerus di dunia rally. Dalam putaran kedua ini, perkembangan Mayka mulai terlihat jelas, terutama dalam perannya sebagai co-deriver atau navigator. Ia tidak lagi sekadar mengikuti arahan, tetapi sudah mulai memahami dinamika balapan secara lebih menyeluruh. "Mayka sudah bisa membuat pace note sendiri, memahami karakter lintasan, bahkan mengoreksi kesalahan yang saya lakukan saat mengemudi maupun kesalahan yang dia lakukan sendiri ketika membaca pace note. Itu adalah proses belajar yang sangat penting dalam rally," jelas Rifat. Kemampuan membaca lintasan dan menyusun pace note menjadi salah satu fondasi penting dalam rally. Di level ini, navigator tidak hanya menjadi “pembaca catatan”, tetapi juga pengambil keputusan yang memengaruhi kecepatan dan keselamatan. Menariknya, proses pembelajaran tidak selalu datang dari kondisi ideal. Pada hari pertama lomba, tim sempat menghadapi kendala teknis pada sektor suspensi kendaraan. Situasi ini memaksa tim untuk beradaptasi dengan cepat. Alih-alih menjadi hambatan, kondisi tersebut justru dimanfaatkan sebagai pengalaman langsung bagi Mayka. "Ketika mobil mengalami masalah suspensi, Mayka belajar untuk memahami batas kemampuan kendaraan. Dia jadi tahu apakah mobil masih mampu dipacu maksimal atau justru harus menahan diri untuk menjaga performa hingga finis. Pengalaman seperti ini sangat berharga untuk perkembangan seorang pereli maupun navigator," tambah Rifat. Dalam dunia rally, kemampuan membaca kondisi mobil sama pentingnya dengan kecepatan. Kesalahan kecil dalam pengambilan keputusan bisa berujung pada kehilangan waktu atau bahkan gagal finis. Menjaga Ritme dan Mental Balapan Rifat juga menekankan bahwa pembinaan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada insting balap dan pengendalian emosi. "Saya ingin Mayka punya feeling yang bagus terhadap kendaraan dan mampu merasakan pace balapan. Hal itu penting karena dia harus tahu kapan waktunya menyerang, kapan waktunya menjaga ritme, dan kapan harus bertahan. Pengalaman seperti itu tidak bisa didapat hanya dari teori," katanya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa proses regenerasi tidak instan. Dibutuhkan kombinasi antara pengalaman lintasan, pemahaman teknis, dan kematangan mental. Di sisi lain, suasana tim juga dijaga tetap santai untuk menghindari tekanan berlebih, terutama bagi pembalap muda. “Kami menjalani lomba ini dengan fun. Kami betul-betul menikmati balapan ini. Di satu sisi, suasana gembira menjadi hal penting dalam program ini. Saya tidak ingin Mayka tertekan dan membuat keasyikan balapan menjadi hilang. Apalagi, kegembiraan adalah bagian terpenting untuk anak-anak dalam mencoba sesuatu yang baru,” papar Rifat. Program pembinaan yang dijalankan oleh Team RS–Telkomsel 5G merupakan bagian dari inisiatif “The Legend Continues”. Program ini dirancang sebagai upaya regenerasi di dunia motorsport Indonesia, khususnya rally. Dengan pendekatan langsung di lintasan kompetitif, Mayka tidak hanya belajar teori, tetapi juga menghadapi tekanan nyata di kejuaraan nasional. Rifat menilai bahwa proses ini jauh lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional. “Untuk hasil yang dicapai hari ini, tak lupa Saya ucapkan terima kasih kepada Telkomsel atas kepercayaannya kepada Team RS-Telkomsel 5G, juga tim mekanik, seluruh tim RFT yang sudah bekerja sangat baik hari ini,” ujar Rifat Sungkar. Hasil di Semarang menjadi modal penting bagi Team RS–Telkomsel 5G untuk menghadapi putaran berikutnya di Kejurnas Sprint Rally 2026. Tidak hanya dari sisi poin, tetapi juga dari progres internal tim. Performa yang konsisten, kemampuan adaptasi terhadap masalah teknis, serta perkembangan signifikan dari navigator muda menjadi kombinasi yang menjanjikan. Meski demikian, tantangan di putaran selanjutnya dipastikan tidak akan lebih mudah. Setiap seri memiliki karakter lintasan berbeda yang menuntut pendekatan baru. Lihat Selengkapnya
Perbedaan Jetour T1 dan T1 i-DM, Kenali Sebelum Pilih
04 Jun 2026
Perbedaan Jetour T1 dan T1 i-DM, Kenali Sebelum Pilih 04 Jun 2026 Jakarta, Goodcar.id – Seperti apa perbedaan Jetour T1 dan T1 i-DM? Sekilas, Jetour T1 dan T1 i-DM memang terlihat seperti mobil kembar. Dimensi identik, desain nyaris sama, bahkan daftar fitur keselamatannya dibuat tanpa banyak perbedaan. Buat yang hanya melihat dari luar, dua SUV ini bisa dengan mudah dianggap kembar tanpa karakter, padahal perbedaan justru cukup signifikan. Secara dimensi perbedaan Jetour T1 dan T1 i-DM tidak ada yang perlu diperdebatkan. Keduanya punya panjang 4.705 mm, lebar 1.967 mm, tinggi 1.843 mm, dan wheelbase 2.800 mm. Proporsinya identik, stance-nya pun serupa. Perbedaan Jetour T1 dan T1 i-DM lainnya, Jetour T1 punya ground clearance 200 mm, sedikit lebih tinggi dibandingkan T1 i-DM yang berada di angka 190 mm. Selisih ini dimungkin kan karena adanya penambahan bobot baterai dan komponen motor hybrid. Salah perbedaan Jetour T1 dan T1 i-DM menarik lainnya adalah detail teknis pada departure angle, yakni sudut bagian belakang mobil saat melewati turunan atau keluar dari medan curam. Pada aspek ini, Jetour T1 i-DM mencatatkan angka 33 derajat, sedikit lebih besar dibandingkan Jetour T1 yang berada di 29 derajat. Selisih ini memang terlihat kecil di atas kertas, namun tetap memberi implikasi pada kemampuan mobil saat melintasi kontur jalan yang tidak rata. Dengan sudut yang lebih besar, bagian belakang T1 i-DM memiliki ruang gerak yang lebih baik ketika melewati turunan tajam, sehingga potensi bersinggungan dengan permukaan jalan dapat diminimalkan. Mesin dan Sistem Penggerak Perbedaan Jetour T1 dan T1 i-D pada sektor mesin, Jetour T1 memang terlihat lebih unggul dengan 170 PS dan torsi 270 Nm. Sementara T1 i-DM mencatatkan 136 PS dan 220 Nm dari mesin bensinnya. Namun, perbandingan ini belum lengkap. T1 i-DM membawa sistem plug-in hybrid yang dipadukan dengan motor listrik bertenaga 204 PS dan torsi 310 Nm. Inilah faktor pembeda utamanya. Karakter tenaga yang dihasilkan motor listrik jauh berbeda dengan mesin konvensional. Responsnya instan, tanpa jeda, tanpa perlu menunggu putaran mesin naik. Dalam kondisi lalu lintas kota yang padat, sensasi berkendaranya bisa terasa lebih ringan dan halus. Transisinya juga lebih smooth berkat penggunaan Dedicated Hybrid Transmission (1DHT), berbeda dengan T1 yang mengandalkan transmisi 7DCT dengan karakter lebih agresif. Dengan kata lain, T1 unggul di angka performa konvensional, sementara T1 i-DM menawarkan pengalaman berkendara yang lebih modern dan responsif. Perbedaan semakin terasa saat membahas baterai. Jetour T1 i-DM dibekali baterai LFP berkapasitas 18,4 kWh, yang menempatkannya sebagai plug-in hybrid dengan kemampuan lebih dari sekadar hybrid biasa. Dalam kondisi tertentu, mobil ini bisa berjalan dengan dominasi tenaga listrik, memberikan efisiensi yang lebih baik terutama di penggunaan dalam kota. Sebaliknya, Jetour T1 tetap menggunakan pendekatan konvensional tanpa sistem elektrifikasi tambahan. Roda, Rem & Suspensi Masuk ke bagian kaki-kaki, T1 menggunakan ban 235/65 R18, sementara T1 i-DM mengusung ukuran lebih besar, yakni 235/60 R19 dengan run-flat tire. Suspensi keduanya tetap sama, menggunakan MacPherson di depan dan multi-link di belakang. Artinya, perbedaan rasa berkendara lebih banyak dipengaruhi oleh ukuran roda dan karakter ban, bukan dari konstruksi suspensinya. Masuk ke interior, perbedaan mulai terasa lebih jelas. Jetour T1 menggunakan head unit berukuran 12,8 inci, sementara T1 i-DM sudah mengadopsi layar 15,6 inci yang terasa lebih dominan di dashboard. Keduanya memang sama-sama menggunakan chip Snapdragon 8155 dan memiliki cluster digital 10,25 inci, namun fitur tambahan di T1 i-DM membuat pengalaman kabin terasa lebih lengkap. T1 i-DM hadir dengan panoramic skyroof 64 inci, sistem audio 9 speaker dari Sony, ambient light dengan 64 pilihan warna, serta fitur 24-hour parking AC. Sementara T1 masih menggunakan konfigurasi 8 speaker dan ambient light satu warna. Perbedaan ini tidak hanya soal fitur, tapi juga membentuk ambience kabin yang berbeda. T1 i-DM terasa lebih premium dan lebih “hidup”, terutama saat digunakan di malam hari atau perjalanan jauh. Kabin Detail kecil lain yang cukup terasa ada di kursi. T1 hanya menyediakan pengaturan elektrik untuk pengemudi, sementara T1 i-DM sudah memberikan electric seat untuk pengemudi dan penumpang depan, lengkap dengan memory seat. Fitur ventilated seat tetap tersedia di keduanya, menjaga kenyamanan di iklim tropis. Menariknya, saat masuk ke sektor keselamatan, Jetour justru tidak membuat perbedaan berarti. Kedua model sama-sama dilengkapi 6 airbags, TPMS, ISOFIX, serta fitur standar seperti ABS, EBD, BAS, TCS, ESC, dan EPB. Fitur ADAS Level 2 juga hadir lengkap di keduanya, mulai dari Blind Spot Detection, Lane Departure Warning, Adaptive Cruise Control, hingga Autonomous Emergency Braking dan 540-degree camera. Satu-satunya pembeda hanya pada radar parkir, di mana T1 i-DM memiliki sensor depan dan belakang, sementara T1 hanya di belakang. Ini menunjukkan bahwa Jetour tetap menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama tanpa membedakan varian. Pada akhirnya, memilih antara Jetour T1 dan T1 i-DM bukan soal mana yang lebih unggul secara mutlak. Keduanya dirancang untuk kebutuhan yang berbeda. T1 cocok untuk pengguna yang menginginkan SUV praktis, simpel, dan tidak ingin repot dengan sistem elektrifikasi. Ground clearance yang lebih tinggi juga memberi rasa aman untuk berbagai kondisi jalan. Sementara T1 i-DM menawarkan pendekatan yang lebih modern, dengan performa responsif, fitur lebih lengkap, dan potensi efisiensi lebih baik. Perbedaan Jetour T1 vs T1 i-DM Jetour T1 : Mesin 1.5 TGDI 170 PS. Transmisi 7DCT. Ground clearance lebih tinggi (200 mm). Velg 18 inci. Head unit 12,8 inci. Audio 8 speaker. Jetour T1 i-DM Sistem plug-in hybrid (PHEV). Motor listrik 204 PS dan torsi 310 Nm. Baterai LFP 18,4 kWh. Velg 19 inci RFT. Head unit 15,6 inci. Audio Sony 9 speaker. Kursi elektrik depan lebih lengkap. Ambient light 64 warna. Panoramic skyroof. Parking radar depan-belakang. Departure angle lebih besar (33°). Lihat Selengkapnya

TANYA LEBIH JAUH TENTANG UNIT

Goodfriends bisa bertanya lebih jauh tentang ketersediaan unit, promo & benefit menarik, negosiasi harga ataupun simulasi kredit yang sesuai dengan kebutuhan Anda.