Jakarta, Goodcar.id - Pabrikan supercar asal Italia, Lamborghini, resmi mengubah arah strateginya. Rencana menghadirkan mobil listrik murni atau full electric vehicle (EV) dibatalkan. Sebagai gantinya, Lamborghini akan sepenuhnya fokus pada model plug-in hybrid (PHEV) dalam beberapa tahun ke depan.
Keputusan ini diambil setelah perusahaan menilai permintaan terhadap supercar listrik belum sesuai ekspektasi, terutama dari kalangan pelanggan setia mereka.
Lamborghini Batalkan Proyek EV, Lanzador Diganti Plug-in Hybrid
Sebelumnya, Lamborghini sempat memperkenalkan konsep mobil listrik bernama Lanzador pada 2023. Saat itu, pabrikan mengindikasikan mobil listrik pertama mereka akan meluncur paling lambat 2029.
Namun, rencana tersebut kini berubah. CEO Lamborghini, Stephan Winkelmann, menyatakan bahwa pengembangan EV penuh berisiko menjadi proyek mahal tanpa kepastian pasar.
Ia menyebut kurva penerimaan konsumen terhadap supercar listrik saat ini “mendekati nol”. Menurutnya, berinvestasi besar pada mobil listrik ketika pasar belum siap dapat menjadi langkah yang tidak bertanggung jawab secara finansial.
Dengan perubahan ini, konsep Lanzador tidak lagi dikembangkan sebagai EV murni, melainkan akan digantikan oleh model plug-in hybrid.
Seluruh Line-up Lamborghini Akan Berbasis Plug-in Hybrid
Mulai 2030, Lamborghini menargetkan seluruh jajaran produknya hanya terdiri dari model plug-in hybrid. Sambil berjalan, perusahaan juga menyatakan masih akan mempertahankan mesin pembakaran internal selama memungkinkan secara regulasi.
Saat ini, strategi elektrifikasi Lamborghini sudah berjalan penuh lewat model-model hybrid terbaru.
Dengan kehadiran ketiga model tersebut, seluruh lini produk Lamborghini kini telah memiliki opsi hybrid.
Rekor Penjualan 10.747 Unit di 2025
Di tengah perubahan strategi tersebut, Lamborghini mencatatkan performa penjualan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Sepanjang 2025, mereka mengirimkan 10.747 unit mobil ke seluruh dunia.
Perusahaan menyebut pencapaian ini didorong oleh keberhasilan strategi hybridisasi yang mendapat respons positif dari konsumen global. Model-model plug-in hybrid disebut berkontribusi signifikan terhadap angka tersebut.
Lamborghini sendiri berada di bawah naungan Grup Volkswagen melalui Audi, dan menjadi salah satu merek performa tinggi yang lebih selektif dalam transisi menuju elektrifikasi penuh.
Faktor Emosional Jadi Pertimbangan
Menurut Winkelmann, sebagian penggemar mobil sport masih kesulitan menemukan koneksi emosional dengan kendaraan listrik. Salah satu faktor yang kerap disebut adalah absennya suara khas mesin pembakaran internal.
“Plug-in hybrid menawarkan yang terbaik dari dua dunia, menggabungkan kelincahan serta dorongan instan dari motor listrik dengan emosi dan tenaga dari mesin pembakaran,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pendekatan Lamborghini terhadap elektrifikasi tidak sekadar mengikuti tren, melainkan menyesuaikan karakter merek dan ekspektasi konsumennya.
Langkah Lamborghini mencerminkan dinamika pasar supercar global yang belum sepenuhnya beralih ke listrik murni. Di segmen mobil performa tinggi, faktor emosional, suara mesin, dan karakter berkendara masih menjadi pertimbangan utama.
Dengan fokus penuh pada plug-in hybrid hingga 2030, Lamborghini memilih jalur transisi yang lebih bertahap. Strategi ini sekaligus memperlihatkan bahwa elektrifikasi di segmen ultra-luxury tidak selalu berjalan linear menuju EV murni.
Ke depan, perkembangan regulasi emisi global dan respons pasar akan menjadi faktor penentu apakah Lamborghini kembali membuka opsi mobil listrik penuh. Untuk saat ini, arah perusahaan sudah jelas: hybrid adalah masa depan terdekat mereka.