Jakarta, Goodcar - Minat terhadap mobil listrik asal China ternyata tidak hanya meningkat di Indonesia, tetapi juga mulai terlihat di pasar Amerika Serikat. Meskipun sebagian besar model kendaraan listrik China belum resmi dipasarkan di Negeri Paman Sam, diskusi mengenai produk tersebut sudah ramai di berbagai forum otomotif dan media sosial.
Hingga saat ini, banyak kendaraan listrik asal China yang sering dibandingkan dengan model global sebenarnya belum tersedia secara resmi di Amerika Serikat. Kendaraan-kendaraan tersebut masih belum memiliki sertifikasi federal, jaringan diler domestik, maupun struktur harga yang mempertimbangkan tarif impor yang berlaku di negara tersebut.
Riset terbaru dari Cox Automotive menunjukkan bahwa persepsi konsumen Amerika terhadap merek otomotif China sudah terbentuk bahkan sebelum mereka melihat produk tersebut secara langsung.
Dalam survei tersebut, sekitar 38 persen responden menyatakan sangat atau cukup mungkin mempertimbangkan membeli mobil dari merek China. Di sisi lain, sekitar 39 persen responden mengaku sangat tidak mungkin memilih merek tersebut.
Data ini menunjukkan bahwa pasar Amerika masih terbelah dalam menanggapi potensi kehadiran produsen otomotif China.
Kelompok konsumen muda menunjukkan sikap yang jauh lebih terbuka terhadap merek otomotif China. Pada segmen Gen Z, sekitar 69 persen responden menyatakan tertarik untuk mempertimbangkan kendaraan dari produsen China jika nantinya tersedia di pasar Amerika Serikat.
Temuan ini menunjukkan bahwa penetrasi awal mobil listrik China kemungkinan akan lebih mudah terjadi pada kelompok demografi tertentu, khususnya generasi muda, dibanding langsung merata di seluruh pasar.
Meskipun hampir setengah responden mengaku pernah mendengar merek otomotif China, tingkat pemahaman mereka terhadap produk-produk tersebut masih tergolong rendah.
Salah satu merek yang paling dikenal adalah BYD. Namun, hanya sekitar sepertiga responden yang mengaku familiar dengan nama tersebut, dan dari jumlah itu hanya sekitar 17 persen yang benar-benar memiliki pemahaman lebih mendalam mengenai merek tersebut.
Di tingkat jaringan distribusi, kesadaran terhadap merek China bahkan lebih rendah. Hanya sekitar seperempat diler di Amerika Serikat yang mengaku mengenal BYD, menunjukkan bahwa diskusi mengenai merek otomotif China masih berada pada tahap awal.
Hasil survei juga menunjukkan adanya perbedaan sikap antara konsumen dan pelaku industri otomotif. Sekitar 40 persen konsumen mengaku tertarik jika merek China masuk ke pasar Amerika.
Namun di sisi lain, hanya sekitar 15 persen dealer yang menyatakan tertarik menjual kendaraan dari produsen China. Bahkan sekitar 92 persen dealer menyampaikan kekhawatiran terkait berbagai aspek, mulai dari reliabilitas, standar keselamatan, hingga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
Meski demikian, sekitar 70 persen dealer menyatakan akan menyesuaikan strategi bisnis mereka jika merek otomotif China benar-benar masuk ke pasar Amerika.
Menariknya, minat konsumen meningkat signifikan ketika mereka diminta membayangkan skenario kolaborasi antara merek China dengan produsen otomotif Amerika yang sudah mapan. Dalam situasi tersebut, minat beli meningkat hingga 76 persen, menunjukkan bahwa kerja sama lintas perusahaan bisa menjadi strategi efektif untuk meningkatkan penerimaan pasar.
Salah satu faktor utama yang membuat konsumen Amerika tertarik pada mobil China adalah harga yang lebih terjangkau. Hampir setengah responden memberikan penilaian positif terhadap aspek keterjangkauan harga kendaraan asal China.
Selain itu, sekitar 35 persen responden juga menilai performa kendaraan dari produsen China cukup baik. Namun untuk faktor-faktor penting seperti kualitas, durabilitas, reliabilitas, dan keselamatan, persepsi konsumen masih belum setinggi merek otomotif yang sudah mapan.
Dalam perbandingan model kendaraan listrik, Tesla Model Y masih menjadi pilihan utama di segmen EV di Amerika Serikat. Sementara di segmen kendaraan bermesin pembakaran internal, Chevrolet Equinox tetap menjadi salah satu model yang paling diminati.
Namun ketika simulasi diskon harga besar diterapkan dalam skenario pembelian, sebagian konsumen—terutama dari kelompok berpenghasilan rendah dan sensitif terhadap harga—mengaku bersedia beralih ke kendaraan dari produsen China.
Secara keseluruhan, merek otomotif Amerika masih memiliki keunggulan berkat tingkat kepercayaan dan familiaritas yang sudah terbangun lama di pasar domestik. Harga yang lebih terjangkau memang dapat mempersempit jarak persaingan, tetapi belum cukup untuk menggeser dominasi merek yang sudah lebih dulu dikenal oleh konsumen.