Jakarta, Goodcar.id - Raksasa otomotif asal Tiongkok, Changan Automobile, lewat anak usahanya Hunan Tyen, resmi mengumumkan keberhasilan uji perdana perangkat bernama Power Turbine Generator (PTG). Perangkat ini dikembangkan secara mandiri dan ditujukan untuk menjawab satu persoalan yang masih menghantui pengguna mobil listrik murni: kekhawatiran kehabisan daya di tengah perjalanan.
Hunan Tyen menjelaskan, PTG merupakan sistem tenaga tambahan yang bersifat modular. Cara kerjanya sederhana, yakni mengubah bahan bakar menjadi listrik untuk menyuplai energi ke kendaraan listrik berbasis baterai (BEV). Jadi, tanpa perlu mengubah struktur utama mobil, perangkat ini bisa membantu menambah pasokan daya saat dibutuhkan.
Bisa Dilepas-Pasang
Yang bikin menarik, PTG dirancang dengan konsep plag and play, alias lepas-pasang. Artinya, mobil listrik murni bisa dipasangi generator tambahan ini saat diperlukan, lalu dilepas kembali ketika tidak digunakan.
Dengan skema seperti ini, kendaraan listrik pada dasarnya bisa berfungsi layaknya mobil dengan sistem range extender. Pengguna tak perlu melakukan modifikasi permanen. Cukup pasang perangkat saat hendak perjalanan jauh atau ketika akses pengisian daya terbatas.
Pendekatan ini dinilai memberi fleksibilitas lebih luas. Terutama untuk kondisi yang selama ini jadi tantangan mobil listrik, seperti penggunaan di suhu dingin atau saat melaju konstan di kecepatan tinggi yang cenderung menguras baterai lebih cepat.
Turbin Lebih Efisien, Sistem Pendingin Lebih Stabil

Secara teknis, jantung dari PTG adalah turbin gas. Hunan Tyen menyebut pengembangannya melibatkan simulasi aliran fluida dan analisis turbulensi tiga dimensi untuk memaksimalkan performa kompresor dan turbin.
Beberapa komponen kunci ikut disempurnakan, mulai dari sistem bantalan bola berdaya efisiensi tinggi, kompresor bersudu yang dirancang lebih optimal, hingga turbin dengan fixed-guide vane. Hasilnya, efisiensi turbin diklaim meningkat lebih dari lima persen dibanding desain sebelumnya.
Tak hanya itu, unit kontrol elektronik (ECU) sebagai pusat kendali sistem juga dirancang ulang agar mampu bekerja stabil di kepadatan daya tinggi. Karena menghasilkan panas besar, sistem ini dilengkapi saluran pendingin khusus dengan strategi manajemen termal berbasis simulasi aliran panas. Tujuannya jelas: menjaga performa tetap stabil meski bekerja dalam suhu tinggi.
Jika perangkat ini bekerja sesuai rencana, salah satu dampaknya adalah berkurangnya ketergantungan pada baterai berkapasitas besar. Selama ini, baterai menjadi komponen paling mahal dalam produksi mobil listrik. Dengan adanya suplai daya tambahan, kebutuhan baterai super besar bisa ditekan, setidaknya untuk skenario penggunaan tertentu.
Menariknya, teknologi ini tak hanya diproyeksikan untuk mobil penumpang. Hunan Tyen juga membuka peluang penggunaan pada drone, peralatan bergerak luar ruang, hingga perangkat portabel lain yang membutuhkan sumber listrik mandiri.
Konsep generator tambahan sebenarnya bukan hal baru. Beberapa pemilik Tesla bahkan pernah memasang perangkat range extender secara mandiri untuk mengurangi kekhawatiran jarak tempuh. Bedanya, solusi tersebut bersifat improvisasi dan tidak terintegrasi langsung dengan sistem pabrikan.
PTG dari Hunan Tyen hadir dengan pendekatan yang lebih terstruktur karena dikembangkan langsung oleh entitas di bawah grup otomotif besar. Integrasi sistem, efisiensi turbin, hingga manajemen panas dirancang sejak awal sebagai satu kesatuan.
Di tengah persaingan teknologi elektrifikasi yang makin agresif, langkah ini menunjukkan bahwa industri belum berhenti mencari solusi paling rasional antara kapasitas baterai, biaya produksi, dan fleksibilitas penggunaan.
Apakah generator lepas seperti ini akan jadi solusi jangka panjang atau sekadar fase transisi menuju baterai yang lebih efisien? Jawabannya akan terlihat ketika teknologi ini benar-benar masuk tahap produksi massal.